Ilustrasi – Pasukan keamanan dengan membawa senjata berdiri di jalan selama protes anti-kudeta di Yangon, Myanmar, (4/3/2021). ANTARA/REUTERS / Stringer/pri.

ZNEWS.ID, JAKARTA – Myanmar dikenal memiliki milisi bersenjata berdasarkan etnis yang menguasai wilayah-wilayah perbatasan. Keberadaan mereka terkait klaim wilayah yang merka kuasai dengan pemerintah pusat.

Namun aksi kekerasan junta militer yang melakukan kudeta sejak awal Februari lalu, membuat kelompok-kelompok bersenjata itu bersatu untuk menghadapi junta militer.

Tiga kelompok bersenjata yakni Arakan Army (AA), Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA) mengumumkan bersatu melawan  angkatan bersenjata Myanmar atau Tatmadaw.

Dikutip dari media lokal, The Irrawaddy, ketiga kelompok bersenjatan itu mengutuk tindakan mematikan aparat ke pengunjuk rasa anti kudeta. Per Selasa, korban tewas akibat peluru tajam militer dan polisi mencapai lebih dari 500 orang.

“Mereka memperlakukan warga sipil dengan sangat kejam,” kata Juru Bicara AA Khaing Thukha, dikutip Rabu (31/3/2021).

“Warga sipil yang tidak bersalah ditembak secara brutal dan dibunuh oleh militer setiap hari. Penangkapan dan penjarahan sewenang-wenang terhadap properti orang-orang sedang meningkat. Kami mengutuk keras tindakan tidak manusiawi dari tentara dan polisi Burma.”

Milisi AA adalah kelompok bersenjata di Negara Bagian Rakhine di barat negara itu. AA selama ini memang bersitegang dengan militer sejak November 2018 terkait pembantaian etnis Rohingya.

BACA JUGA  Militer Myanmar Luncurkan Serangan Udara di Negara Bagian Karen

LEAVE A REPLY