Untuk itu, AS dan Jepang berkomitmen untuk menentang pemaksaan dan perilaku destabilisasi terhadap negara lain di kawasan yang merusak sistem internasional berbasis aturan, tambah mereka, menurut pernyataan tersebut.

Pernyataan itu dirilis usai pertemuan dengan format 2+2 antara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dengan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan Nobuo Kishi sebagai tuan rumah.

Para menteri juga membahas “komitmen teguh” Washington untuk membela Jepang dalam perselisihannya dengan China atas pulau-pulau kecil di Laut China Timur. Mereka juga mengulangi penolakan terhadap klaim maritim China yang “melanggar hukum” di Laut China Selatan.

Mereka juga menyatakan prihatin atas perkembangan undang-undang yang disahkan China pada Januari, yang mengizinkan penjaga pantainya menembaki kapal asing.

China telah mengirim kapal penjaga pantai untuk mengusir kapal penangkap ikan dari negara-negara yang memiliki sengketa di perairan regional, terkadang hingga mengakibatkan kapal-kapal itu tenggelam.

Motegi mengatakan masalah-masalah yang berhubungan dengan China merupakan agenda utama pembicaraan dua arah yang dilakukannya dengan Blinken. Menlu Jepang itu menyatakan menentang keras “upaya sepihak” negara tetangganya, China, untuk mengubah status quo di Laut China Timur dan Laut China Selatan.

Di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan pada acara jumpa pers rutin bahwa hubungan AS-Jepang “tidak boleh menargetkan atau merusak kepentingan pihak ketiga mana pun,” dan harus meningkatkan “perdamaian dan stabilitas di Asia-Pasifik”.

 

Editor: Dhany

Sumber: Antara

BACA JUGA  China Bersikukuh Latihan Militer Dekat Taiwan Sebagai Tindakan yang Diperlukan

LEAVE A REPLY