Ilustrasi Rudal Hawk AS | Foto: tvnz.co.nz/istock.com

ZNEWS.ID, WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi kian meningkat. Setelah  merilis temuan intelijen AS mengenai kasus pembunuhan wartawan Jamal Kashogi yang melibatkan puttra mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman, kini AS tegah mempertimbangkan penghentian penjualan senjata pada negara paling berpengaruh di Timur Tengah itu.

Alasan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menghentikan kesepakatan senjata dengan Arab Saudi dan membatasi penjualan senjata hanya untuk senjata defensif, karena adanya kekhawatiran atas pelanggaran hak asasi manusia.

Empat sumber mengatakan kepada Reuters, para pejabat sedang meninjau peralatan dan pelatihan yang termasuk dalam kesepakatan senjata baru-baru ini dengan Arab Saudi. Itu dilakukan dalam upaya untuk menangguhkan penjualan senjata ofensif dan hanya mengizinkan penjualan produk-produk pertahanan.

“Penjualan senjata yang dianggap defensif, seperti sistem pertahanan rudal anti-balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang dibuat oleh Lockheed Martin atau sistem pertahanan rudal Patriot yang dibuat oleh Lockheed dan Raytheon – akan tetap diizinkan berdasarkan kebijakan baru,” kata laporan itu seperti dikutip dari Al Araby, Ahad (28/2/2021).

Namun, penjualan produk seperti amunisi berpemandu presisi (PGM) dan bom berdiameter kecil, yang telah diperantarai di bawah pemerintahan Donald Trump, dapat ditangguhkan.

“Mereka mencoba untuk mencari tahu di mana Anda menarik garis antara senjata ofensif dan barang-barang pertahanan,” lapor Reuters, mengutip seorang ajudan kongres yang akrab dengan masalah tersebut, menjelaskan prosesnya.

Peninjauan senjata juga akan memengaruhi perjanjian senilai USD23 miliar dengan Uni Emirat Arab (UEA) – mitra penting AS lainnya di wilayah tersebut.

BACA JUGA  Ketegangan Kian Meningkat, Menlu AS Peringatkan China

LEAVE A REPLY