Fatma (11), siswa beprestasi sekolah kandang MI Nurul Ihsan ToliToli. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID TOLITOLI – Sudah pukul sembilan, namun siang hari di Kampung Bangir, Dampal Selatan, Tolitoli, Sulawesi Tengah, datang lebih dini. Walau baru pukul sembilan, hawa panas sudah menyelimuti kelas.

Entah karena matahari di sana datang lebih awal atau memang karena atap seng yang membuat kelas itu terasa lebih hangat.

Di waktu yang sama, di balik dinding kelas berbahan kayu, siswa kelas 5 Madrasah Ibtidayah Nurul Ihsan sudah masuk satu jam terkahir jadwal belajar mereka.

Fatma (11), siswa beprestasi sekolah kandang MI Nurul Ihsan ToliToli. (Foto: Dompet Dhuafa)

Guru Sarini kali ini bertugas mengajarkan bab ‘Perubahan Zat’ mata pelajaran IPA kepada para siswa. Salah satu mata pelajaran yang dianggap berat oleh kebanyakan siswa.

Namun, rupanya tidak untuk Fatma (11). Ia justru terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan belajar mengajar. Walau tak bisa dimungkiri, hawa panas cukup membuat dirinya kurang nyaman.

Fatma (11), siswa beprestasi sekolah kandang MI Nurul Ihsan ToliToli. (Foto: Dompet Dhuafa)

Seperti siswa lain, ia juga memfungsikan buku-buku tulisnya sebagai kipas penghalau hawa panas. Sembari Guru Sarini menjelaskan bagaimana benda padat menjadi benda cair, Fatma dengan khidmat memerhatikan.

Nampaknya, isu tentang lahirnya anak-anak cerdas di MI Nurul Ihsan bukan sembarang datang begitu saja. Fatma adalah sosok percontohan dari kasus tersebut.

BACA JUGA  Dijuluki Sekolah Kandang, MI Nurul Ihsan Jadi Pencetak Siswa Berprestasi

LEAVE A REPLY