Ilustrasi kanker paru. (Foto: healthworkscollective.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kasus kematian akibat kanker paru-paru meningkat hingga 18 persen pada 2020. Data dari Global cancer statistics (Globocan) 2020 mencatat bahwa kematian karena kanker paru di Indonesia meningkat menjadi 30.843 orang dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus.

Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aldrin Neilwan, menyatakan bahwa kanker paru-paru merupakan penyakit mematikan di dunia setelah kanker payudara dengan prevalensi mencapai 11,4 persen.

“Oleh sebab itu, upaya terpenting yang harus dilakukan bukan lagi mengobati, namun preventif atau pencegahan,” jelas Aldrin, dilansir dari Antara, Sabtu (27/2/2021).

Upaya pencegahan yang disebut Aldrin tidak hanya menerapkan gaya hidup sehat, tetapi juga melakukan skrining atau tes. Terutama, bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi terkena penyakit kanker.

“Ini perlu dilakukan karena delapan puluh persen pasien yang datang untuk memeriksakan diri rupaya sudah mengidap kanker stadium lanjut. Sehingga, pengobatan menjadi semakin sulit dan semakin mahal,” jelas Aldrin.

Mengutip dari laman Cancer Information and Support Centre (CISC), terdapat dua faktor risiko kanker paru-paru. Faktor pertama adalah faktor yang dapat dikendalikan seperti; terpapar asap rokok, tinggal atau bekerja di area pertambangan atau pabrik yang mengandung bahan pencetus karsinogen. Kemudian, tinggal atau bekerja di daerah dengan polusi tinggi.

Sementara, untuk faktor kedua adalah faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti; usia lebih dari 40 tahun, riwayat kanker dalam keluarga dan sebelumnya pernah menderita kanker.

BACA JUGA  LKC Dompet Dhuafa Jakarta Skrining Kesehatan Warga Secara Door to Door

LEAVE A REPLY