Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah. (Foto: fatchuri.com)

Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)

ZNEWS.ID JAKARTA – Namanya Hidayatullah. Lahir di tahun 1448. Darahnya darah biru. Ibunya bernama Nyai Rara Santang, putri kedua Prabu Siliwangi dari Pajajaran. Setelah mimpi bertemu Rasulullah, ibunya meninggalkan istana dan belajar Islam bersama kakaknya, Raden Walang Sungsang di Cirebon. Mereka berguru kepada seorang ulama bernama Syeikh Nurjati. Sejak itu, ibunya berganti nama menjadi Mudaimah. Setelah menikah, namanya menjadi Syarifah Mudaimah.

Ayahnya juga dari kalangan bangsawan. Namanya Syarif Abdullah; seorang sultan dari Dinasti Abbasyiah di Mesir. Nasabnya sampai kepada Rasulullah di garis ke-22 hingga gelar syarif melekat pada sang ayah. Itu sebabnya di depan nama Hidayatullah pun tertulis gelar syarif. Syarif Hidayatullah.

Kakek buyut dari jalur ayahnya bernama Jamaludin Akbar al-Husaini, putra Ahmad Syah Jalaluddin Gubernur Malabar, propinsi yang masuk dalam wilayah kesultanan Delhi. Kesultanan Delhi sendiri dipimpin oleh kakaknya, Amir Syah Jalaluddin.

Sebelum usianya genap 20 tahun, Syarif Hidayatullah telah hafal seluruh isi Alquran, ribuan hadis, menyelesaikan pendidikan Islam, sejarah, dan ilmu pemerintahan di universitas terbaik dunia saat itu, Al-Azhar Mesir. Untuk menyempurnakan ilmunya, ia pergi ke Makkah dan berguru selama dua tahun pada ulama-ulama terkemuka di sana.

Hari itu, di usianya yang ke-22, sang Ibu berpesan kepadanya, “Ananda Hidayat, bersyukurlah atas nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita. Itulah arti dari namamu. Dan, jangan pernah melupakan asal-usulmu. Kerajaan dan rakyat Pajajaran belum tersentuh dakwah. Pulanglah ke Pajajaran dan berdakwalah di sana. Ajak kakekmu, Prabu Siliwangi, agar merasakan kedamaian Islam.”

Ini bukan nasihat pertama yang ia dengar. Tapi, disampaikan lagi tepat setelah ia menyelesaikan pendidikannya, sepertinya sang ibu ingin menyatakan bahwa waktunya telah tiba. Hidayat pun telah menantikan kesempatan ini. Selain keturunan bangsawan, dalam darahnya juga mengalir semangat dakwah para ulama.

BACA JUGA  Pencarian Islam Walangsungsang

Kakek buyutnya, Syeikh Jamaludin al-Husaini meninggalkan istana Malabar di India dan memilih menjadi ulama, berpetualang mengelilingi dunia menyebarkan Islam di Kelantan, Champa, Samudera Pasai, Jawa, dan Sulawesi. Ia bahkan melepaskan anak sulungnya, Maulana Malik Ibrahim, pergi seorang diri di usia muda dan berdakwah di wilayah Majapahit.

LEAVE A REPLY