Ilustrasi. (Foto: pexels.com/@segopotso-makhutja-443819)

Oleh: Yonatan Y. Anggara (Penerima Manfaat Bakti Nusa 9 Yogyakarta)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dahulu, dalam perjalanan hidup, setiap manusia banyak yang menyangka jika segala hal yang diprasangkakan pasti akan terwujud menjadi kenyataan. Yang saat ini, sering disebut dan digantikan dengan kata berhasil.

Namun, lambat laun, perjalanan waktu membisikkan suatu hal yang baru. Suatu kata yang tidak pernah bisa ditolak oleh dua kaki yang berjalan di atas muka bumi. Kegagalan.

Maka, sampaikan kepadaku, siapa yang tidak pernah gagal? Tidak ada. Bahkan, kegagalan seolah menjadi hal yang selalu datang meski tidak diundang. Hegemoni kegagalan setiap manusia memberikan cerita yang unik, aneh, bahkan beraneka ragam.

Namun, aku lebih suka menyebutnya romantis. Kegagalan selalu memberikan ingatan tersendiri dalam setiapa jalan hidup manusia. Memberikan bekas yang tidak diinginkan oleh orang yang hidup di dunia. Ada dua pilihan sebenarnya ketika kegagalan itu datang. Menghardiknya atau merayakanya.

Tuhan Sedang Mendidikmu

Sifat dari manusia adalah sok tahu dan sok mengerti. Seolah paling tahu jika apa yang dia yakini baik pasti itu baik. Padahal, bukankah kebaikan itu komprehensif, bukannya parsial dan sektoral?

Jika berbicara kebaikan secara komprehensif, maka bisa jadi kebaikan menurut satu orang itu berbeda dengan orang lainya. Menurutmu hijau itu baik, namun menurutku tidak, birulah yang baik.

Jadi, kegagalan masihkah kamu anggap sebagai ketidakbaikan? Kegagalan adalah cara Tuhan mendidikmu. Maka, jangan mudah kecewa ketika Tuhan tidak selalu menjawab doamu dengan kata “Iya”.

BACA JUGA  BAHAGIA, Kunci Sehat bagi Lansia

LEAVE A REPLY