Ilustrasi: Keraton Kasepuhan Cirebon. (Foto: alampriangan.com)

Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)

ZNEWS.ID JAKARTA – Hari itu Istana Pajajaran heboh. Pelanggaran tradisi terjadi. Sang putra mahkota, Pangeran Jaya Dewata mempersunting seorang gadis muslimah bernama Nyai Subang Larang, murid Syeikh Hasanudin dari Pondok Quro Karawang.

Padahal, sang pangeran diutus ke Karawang untuk mengusir Syeikh Hasanudin yang menyebarkan Islam di wilayah Pajajaran. Tapi, ia terkesima mendengar lantunan ayat Alquran yang sedang dibaca oleh Subang Larang.

Syekh Hasanudin mengizinkan Pangeran Jaya Dewata untuk menikahi Subang Larang dengan satu syarat, sang pangeran harus memberikan kebebasan Subang Larang untuk tetap memeluk Islam dan menjalankan ibadahnya di istana. Sang Pangeran menyanggupi. Maka hari itu, pada 1422, Islam masuk ke dalam Istana Pajajaran.

Pernikahan itu melahirkan 3 anak, Raden Walang Sungsang yang lahir pada 1423, Nyai Rara Santang pada 1426, dan Raden Kian Santang setahun kemudian. Jaya Dewata pun naik tahta menggantikan ayahnya dan mendapat gelar Sri Baduga Maharaja. Masyarakat Sunda mengenalnya dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Tulisan ini bukan tentang sang raja, tapi sang putra mahkota Raden Walangsungsang. Kisahnya berawal malam itu saat dalam tidurnya, Walangsungsang mimpi bertemu dengan Rasulullah yang menyuruhnya pergi memperdalam Islam.

Walangsungsang memang sudah lama tertarik dengan Islam yang diajarkan ibunya. Maka, esoknya ia meminta izin sang raja untuk pergi berkelana.

Dari Istana Pajajaran di Bogor, Walangsungsang mengembara ke arah timur mencari guru yang bisa mengajarkan Islam padanya. Pengembarannya pun sampai di daerah Amparan Jati dan bertemu dengan Ki Gedheng Tapa, syahbandar Muara Jati Cirebon.

BACA JUGA  5 Tips Hidup Bahagia Menurut Islam

LEAVE A REPLY