Ilustrasi harta simpanan. (Foto: Ist)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dalam manajemen keuangan keluarga, kegiatan deposito merupakan tindakan mengatur sebagian uang penghasilan menjadi uang simpanan. Penghasilan yang diterima dari profesi, misalnya gaji yang didapat setiap bulan, dapat disisihkan dan ditabungkan sebagai deposito.

Harta simpanan berupa deposito ini wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nisab dan haulnya. Apa itu nisab dan haul?

Nisab adalah besar harta minimal yang dimiliki yang sudah wajib dikeluarkan zakatnya, sedangkan haul adalah waktu kepemilikan harta tersebut telah mencapai satu tahun.

Besar nisab deposito diqiyaskan dengan nisab emas. Kepemilikan emas mencapai 85 gram dan lebih wajib untuk mengeluarkan zakat.  Deposito yang mencapai nilai emas 85 gram atau setara dengan Rp 40 juta dan telah dimiliki selama setahun, wajib dizakati.

Misalnya, seorang pegawai perusahaan swasta yang memiliki gaji per bulan sebesar Rp 15 juta. Mulai Januari 2021, ia menyisihkan Rp 5 juta per bulan untuk didepositokan.

Setelah satu tahun (12 bulan x 5 juta/bulan), jumlah tabungan mencapai 60 juta. Depositonya mencapai nisab (lebih dari Rp 40 juta). Sehingga, pada Januari 2022, ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2.5% dari besar deposito.  Maka, zakat deposito yang harus ia keluarkan sebesar Rp 1,5 juta.

Zakat menyucikan harta dari bercampurnya hak orang lain (orang yang membutuhkan), mengembangkan kekayaan batin, dan merupakan manifestasi syukur atas nikmat Allah.

Semoga keutamaan-keutamaan zakat terutama zakat harta simpanan atau deposito dapat kita raih sebagai ibadah wajib bagi muslim dan mukmin. Aamiin. (zakat.or.id)

BACA JUGA  5 Tips Menunaikan Zakat Tepat Sasaran

LEAVE A REPLY