Ilustrasi. (Foto: sekolahguruindonesia.net)

Oleh: Agung Pardini (Mentor pada Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Ikhtiar meningkatkan kualitas pendidikan sudah beraneka ragam cara digulirkan. Mulai dari penetapan empat macam undang-undang di ranah pendidikan (UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, UU Pendidikan Tinggi, dan UU Pesantren). Dilengkapi dengan tiga kali perubahan peraturan pemerintah tentang standar nasional pendidikan (PP 19 Tahun 2005, PP 32 Tahun 2013, dan PP 13 Tahun 2015).

Hingga, tiga kali pergantian kurikulum (KBK, KTSP 2006, dan K-13) telah dikeluarkan. Namun, hingga dua dekade Reformasi, semua hal tersebut masih belum banyak menghapus rona buram dari wajah pendidikan di negeri ini.

Perbaikan pendidikan memang tidak boleh terbatas pada ruang-ruang kebijakan dan regulasi. Jika upaya perbaikan pendidikan masih belum menyentuh hingga ke lingkup ruang-ruang kelas ajar, nampaknya kualitas pendidikan kita masih akan terus jalan di tempat.

Walaupun seorang anak Indonesia hari ini secara umum akan menyelesaikan pendidikan selama 12,3 tahun saat ia berusia 18 tahun. Tapi, menurut laporan Bank Dunia pada 2020, menyatakan bahwa secara rata-rata, ia hanya akan menerima pembelajaran setara 7,9 tahun sekolah karena rendahnya mutu pendidikan.

Ini nampaknya masih relevan dengan hasil pengukuran yang dilakukan dalam Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) tahun 2016. Didapati bahwa kemampuan membaca siswa usia SD 46,83 persen masih berada pada level kurang, 47,11 persen pada level cukup, dan hanya 6,06 persen yang sudah berada pada level baik.

Di era pandemi seperti sekarang ini, setiap satuan pendidikan semakin dipaksa untuk mentransformasi fungsi pembelajaran di kelas. Terutama ketika siswa di hari ini memiliki kemudahan untuk mengakses segala informasi terkait dengan aktivitas belajar berbasis digital.

BACA JUGA  Selalu Ada Secercah Cahaya di Dunia

Transformasi digital menjadi semacam keharusan yang muncul di era pandemi saat ini. Selain memang telah menjadi tren baru, ongkos produksinya pun lebi murah, dan jangkauannya bisa diperluas. Namun ini bukan satu-satunya jalan untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

LEAVE A REPLY