Edah, guru agama di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Anwarul Hidayah, Pandeglang, Banten. (Foto: Dompet Dhuafa/Zulfana

ZNEWS.ID PANDEGLANG – Istilah Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa begitu melekat pada sosok Edah (35). Ia merupakan guru agama di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Anwarul Hidayah, Pandeglang, Banten. Selama 12 tahun mengajar di sana, Edah tak sekalipun mengharapkan gaji.

Lembaga pendidikan keagamaan nonformal itu terletak di Kampung Cipeutey, Desa Ciseureuheun, Kecamatan Cigeulis. Wilayahnya masih asri dan otentik. Rumah-rumah warga hanya berdiri dengan kayu dan dinding rajutan bambu. Warganya kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Dari tempat wisata Tanjung Lesung yang mahsyur itu, hanya berjarak satu jam perjalanan darat. Sedangkan, dari pusat Kota Pandegelang bisa ditempuh sekitar 3 jam.

Pengabdian Edah, sang pendidik ulung dari ujung barat Jawa. (Foto: Dompet Dhuafa/Zulfana)

Sebagian besar warganya masih mengandalkan sungai untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus, khas kehidupan di pedesaan. Belum banyak terpapar modernisasi, sekalipun sinyal handphone sudah masuk untuk provider tertentu.

“Mohon maaf, ya, Pak, beginilah desa kami. Sudah pasti berat untuk Bapak, Ibu, bisa sampai ke sini,” sapa Edah pada tim Dompet Dhuafa yang bertamu di kediamannya beberapa waktu lalu.

Tidak salah jika ia merasa sedikit sungkan. Pasalnya, butuh waktu 30 menit lamanya menyusuri jalan terjal berbatu untuk bisa sampai ke sana. Bukan jalan rusak, hanya saja lebih mirip jalan batu yang belum pernah mengenal aspal.

Besar bebatuan itu bisa menyerupai ukuran kepala kerbau, membuat kendaraan apapun di atasnya bergejolak minta putar balik. Bila hujan datang, jalan kaki tentu lebih efisien karena bukan hanya berbatu, jalan juga menjadi licin.

BACA JUGA  HUT ke-11, SGI Persembahkan Kolaborasi 1.000 Guru Pemimpin

LEAVE A REPLY