Ilustrasi wakaf: Dompet Dhuafa sosialisasikan program Wake Up! Wakaf di Car Free Day, Jakarta. (Foto: Dompet Dhuafa)

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan)

ZNEWS.ID JAKARTA – Mungkinkah filantropi sebenarnya hanya kamuflase dari kapitalisme? Umumnya kita berpandangan bahwa filantropi adalah antitesa dari kapitalisme. Filantropi mengajak orang pada kedermawanan sosial, sedangkan kapitalisme mendoktrin orang untuk memusatkan kekayaan pada personal.

Penjelasan di atas barangkali ada benarnya. Namun, jika kita mengkaji lebih dalam asal muasal dan motif munculnya filantropisme, ternyata memiliki hubungan erat dengan kapitalisme global yang melahirkan ketimpangan sosial akut di seluruh dunia.

Indonesia sendiri menempati urutan keempat sebagai negara dengan ketimpangan sosial tertinggi di dunia di bawah Russia, India, dan Thailand. Rasionya 49,3% kekayaan nasional dikuasai oleh 1% warga negara (Sumber: Credit Suisse Global Wealth Databooks, 2016).

Sejak era George Soros hingga Bill Gates, para kapitalis dunia, pada sisi yang lain juga dikenal sebagai filantropis dunia. Jika kapitalis dan filantropis bisa berjalan beriringan, bukankah pertanda keduanya ibarat dua sisi mata koin?

Artinya, filantropi bukanlah antitesa dari kapitalisme. Filantropi adalah perpanjangan kapitalisme. Dengan kata lain, pesan yang tersampaikan adalah Anda boleh menjadi seorang kapitalis (memusatkan kekayaan pada diri sendiri), namun pada sisi lain Anda juga harus menjadi filantropis (mengalirkan sebagian kecil kekayaan untuk orang lain).

Itulah mengapa kita selalu mendapati para konglomerat dunia mendirikan yayasan kemanusiaan. Termasuk juga pada lingkup nasional. Apakah salah? Sama sekali tidak salah.

Hanya, kita ingin mengkritisi lebih dalam. Bagaimana bisa dalam negara, sistem ekonominya menghasilkan segelintir orang yang memiliki kekayaan luar biasa?

BACA JUGA  Kasus Corona Meningkat, Kemenag Ajak Pengelola ZIS Proaktif Bantu Umat

LEAVE A REPLY