Didik, salah seorang dai binaan Dompet Dhuafa Waspada yang tinggal di Kabupaten Karo, Sumatra Utara. (Foto: DD Waspada)

ZNEWS.ID KARO – Bukan hal mudah melakukan dakwah di wilayah pedalaman. Pasalnya, setiap daerah memiliki tantangan dan kesulitan yang berbeda-beda. Jika di daerah perkotaan, kita terbiasa menapaki jalan yang beralaskan aspal.

Lain halnya jika di pedalaman. Sehari-hari, yang kita temui adalah jalan berlumpur, licin, berbukit, dan penuh bebatuan. Di beberapa badan jalan, tak jarang dipenuhi banyak lubang. Akses jalan yang kecil ikut menguji konsentrasi agar tidak terjatuh ke dalam jurang.

Minimnya pengetahuan masyakarat tentang agama juga menjadi rintangan tersendiri bagi Didik, salah seorang dai binaan Dompet Dhuafa Waspada yang tinggal di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

Dari pantauan yang ia lihat, di daerah sana sudah ada masjid dengan bangunan yang kokoh. Namun, sangat disayangkan, ketika masjid yang menjadi tempat ibadah itu ditemukan banyak kotoran cecak, kotoran burung, dan penuh sawang di langit-langitnya.

Lantainya tak kalah berdebu. Di tambah lagi, ambal (permadani) yang terbentang mengeluarkan bau kurang sedap.

Itulah mengapa menjadi seorang dai bukan hal yang mudah. Di tempat ia bermukim, Didik mengutarakan bahwa tidak sedikit anak-anak dan orang tua yang belum bisa membaca Alquran. Ibu-ibu pun, jarang sekali ditemukan menggunakan hijab.

Bahkan yang terparah, ilmu dasar yang berkenaan dengan fikih begitu minim. Sehingga, untuk tata cara mandi junub juga banyak tidak tahu.

BACA JUGA  Bisnis Indonesia Group Tunaikan Zakat Karyawan di Dompet Dhuafa

LEAVE A REPLY