Vaksin Covid-19. (Antara)

ZNEWS.ID, JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengevaluasi kandidat vaksin COVID-19 secara ketat dan mengedepankan kepentingan kesehatan masyarakat sebelum menerbitkan otorisasi penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA).

Walaupun begitu, menurut Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM Togi J Hutadjulu, Rabu (28/10.2020), jika setelah imunisasi terjadi efek samping berisiko tinggi maka dapat dilakukan sejumlah langkah, salah satunya adalah mencabut izin jika terlalu beresiko.

“Apabila terdapat peningkatan frekuensi efek samping, maka Badan POM dapat melakukan tindak lanjut dengan cara melakukan pengkajian dengan para ahli di bidangnya dan klinisi beserta Komite Nasional KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi),” kata Tog dalam konferensi pers, Rabu.

Saat ini, tercatat ada 44 kandidat vaksin COVID-19 yang tengah menjalani uji klinis, beberapa ada di tahap akhir yakni fase III. Sebanyak 154 kandidat vaksin lainnya masih dalam tahap uji preklinis.

“Jika ditemukan bahwa risiko menjadi lebih besar daripada manfaatnya, hasil pengkajian tersebut akan ditindaklanjuti dengan memberikan komunikasi risiko dan dapat dilakukan pencabutan EUA,” lanjut Togi.

BPOM menegaskan hingga saat ini belum ada satu pun vaksin COVID-19 yang uji klinisnya sudah selesai.

“Sampai saat ini belum ada vaksin COVID-19 yang sudah mendapatkan izin edar. Semua kandidat vaksin COVID-19 yang ada masih dalam proses pengembangan uji klinik,” kata Togi.

BACA JUGA  Para Pemimpin G20 Janji Danai Distribusi Vaksin COVID-19 Global

LEAVE A REPLY