Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Oleh: Ahmad Shofwan Syaukani (Penerima Manfaat Bakti Nusa Bandung)

ZNEWS.ID JAKARTA“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah Taala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’ . (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)’.” (QS 7:172).

Hikmah dari pada potongan ayat tersebut menceritakan bahwa setiap individu dari diri kita sebenarnya sudah pernah bertransaksi sebagai seorang hamba kepada Sang Pencipta. Tentunya ketika dulu kita berada di alam ruh sana.

Dengan sadar berucap janji, meyakininya sepenuh hati. Dan, mengamalkannya dengan berkarya dalam kebaikan setiap hari.

Sekarang, tengoklah dirimu sendiri. Sebetulnya, aktivitas kebaikan yang hadir pada dirimu itu ditujukan untuk siapa?

Apakah kepada dirimu, orang lain, atau kepada Tuhan-mu? Mulai dari pencapaian organisasi, prestasi, jabatan atau mungkin status sosial yang kita dapatkan sampai dengan hari ini.

Sedikit demi sedikit, orientasi aktivitas kita harus mulai diluruskan. Apakah pengakuan dari Sang Pencipta atau sesama manusia? Apalagi hanya sekadar apresasi atau pun ucapan terima kasih.

Komitmen juang ini yang harus kita rawat bersama. Memangnya, apa yang bisa kita banggakan dari itu semua?

LEAVE A REPLY