Ilustrasi guru hebat. (Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Amru Asykari

ZNEWS.ID JAKARTA – Upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia tidak pernah surut. Kita bisa lihat dari kebijakan pemerintah di sektor pendidikan, baik yang bersifat langsung seperti pengadaan sarana dan prasarana sekolah, penyediaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), pengembangan kurikulum, penyediaan buku pelajaran, penyelenggaraan penataran guru, dan tunjangan Sertifikasi Guru.

Maupun, yang bersifat tidak langsung seperti pemberlakuan peraturan perundang-undangan, dari mulai UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No 19 tentang Standar Nasional Pendidikan, sampai Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 129A/U/2005 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pendidikan.

Bahkan, dalam RENSTRA DEPDIKNAS tahun 2005-2009, upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan lebih mengarah kepada tataran praktis, yaitu mendorong semakin terjadinya perluasan inovasi pembelajaran dan akses masyarakat untuk lebih banyak berperan dan berinisiatif dalam meyelenggarakan dan meningkatkan mutu pendidikan terbuka lebar.

Namun, pertanyaan-pertanyaan sederhana mengemuka, apakah upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidkan Indonesia sudah membuahkan hasil? Apakah dana BOS sudah berhasil mendongkrak mutu pendidikan kita atau malah membuka peluang baru untuk korupsi?

Apakah pengembangan kurikulum dan penyediaan buku pelajaran sudah menggairahkan dunia pendidikan kita atau hanya sekadar pedoman yang tersimpan rapi? Sementara, para penyelenggara pendidikan masih betah berada pada dunia nyamannya.

Apakah penataran guru sudah meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar atau ia hanya sekadar 6 D? Datang, duduk, dengar, diam, dapat duit.

Apakah tunjangan Sertifikasi Guru serta merta menggelorakan semangat guru untuk memberikan pengadian terbaiknya atau malah mengubah gaya hidup mereka menjadi hedonis – pamer-pamer mobil kreditan?

BACA JUGA  DD Aceh Salurkan Kado Pangan untuk Guru, Yatim dan Dhuafa

LEAVE A REPLY