Ilustrasi. (Foto: Aliya Nurarifa Saadah)

Oleh: Aliya Nurarifa Saadah (Penerima Manfaat Bakti Nusa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kita terbiasa dengan narasi perdamaian mungkin karena tak pernah merasakan perang. Hingga rasanya perang begitu menyeramkan, padahal tanpa sadar, setiap harinya kita sedang diperangi.

Kata perang menjadi menakutkan dan rasanya tak perlu lah ada keributan. Persatuan selalu digaungkan namun tetap saja upaya saling menjatuhkan tetap berjalan. Tak banyak yang terbuka dan tergerak mencari jalan tengah.

Mengutip perkataan Pak Anies Baswedan, “Kedamaian bukan berarti tidak ada kekerasan, namun ketika keadilan sosial dapat terpenuhi”.

Terkadang, kita mungkin terlalu naif untuk berkorban dan memahami cara orang lain berjuang. Seolah, “diam saja” adalah jalan keluar.

Padahal, dalam proses pembelajaran hidup yang seharusnya dinamis, perdamaian tak melulu lewat jabat tangan dan persetujuan. Bisa pula berbentuk protes untuk mengingatkan kepada yang berwenang.

Seorang plegmatis pun tak mungkin selamanya diam dan menjaga ketenangannya jika memang ada kezaliman yang terjadi. Lalu, berdalih memilih damai karena “tidak enakan”.

Orang-orang justru menjadi apatis. Lebih memilih mendiamkan, tak perlu ambil peran, berlagak netral, tak ingin punya lawan.

BACA JUGA  Ini Peta Sebaran Area Donasi Paket Sembako ExxonMobil Indonesia

LEAVE A REPLY