Ilustrasi hoaks. (Foto: Pixel2013)

“Hoaks ini tidak ada habisnya. Di media sosial 50 persen isinya hoaks. Tidak usah dipercaya. Hanya modal jempol, orang bisa membuat rusuh,” kata dia.

Erlina mencontohkan, dampak hoaks ini antara lain membuat pasien-pasien Coron tidak mau datang ke rumah sakit. Dan, ini berdampak buruk pada mereka yang sudah mempunyai penyakit penyerta atau komorbid seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan lainnya.

Akhirnya, banyak dari mereka yang meninggal di rumah karena tidak mendapatkan pengobatan. Menurut dia, masyarakat takut datang ke rumah sakit karena takut tertular Corona. Padahal, sebenarnya rumah sakit bisa mengendalikan penularan infeksi jauh lebih baik daripada masyarakat.

Dia mengakui bahwa informasi Corona sangat dinamis karena tergolong penyakit baru. Bahkan para pakar kesehatan termasuk di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mempelajarinya. Masyarakat diimbau untuk mencari informasi yang benar melalui sumber-sumber resmi mengenai Corona.

Di sisi lain, sebenarnya mayoritas masyarakat sangat khawatir dengan informasi yang menyesatkan terkait Corona. Temuan dari pihak Indikator Politik Indonesia yang diungkapkan pada Minggu (18/10/2020) menunjukkan bahwa sebanyak 55,7 persen orang mengaku sangat khawatir, sedangkan 24,8 persen agak khawatir dan 12,7 persen orang yang mengatakan luar biasa khawatir.

Sementara itu, hanya 5,3 persen orang yang mengaku tidak terlalu khawatir dan 1 persen tidak khawatir sama sekali. Hasil ini didapat setelah tim peneliti mengumpulkan data dari 1.200 responden yang dipilih pada 24 September-30 September 2020.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan bahwa ukuran sampel ini memiliki toleransi kesalahan (margin of error–MoE) sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

BACA JUGA  Bertambah 3.046, Kasus Positif Corona di Indonesia Tembus 200.035

LEAVE A REPLY