Ilustrasi Kesehatan Mental. (Foto: pixabay.com)

Oleh: Felicia Yulita Kartika Sari

ZNEWS.ID JAKARTA – Apa yang terbersit dipikiranmu saat melihat seseorang pergi ke psikolog maupun psikater? Apa yang kamu pikir tentang gangguan mental? schizophrenia?

Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 40 juta penduduk Indonesia mulai dari usia 15 tahun mengalami gangguan mental emosional seperti depresi dan kecemasan. Angka ini terus bertambah setiap tahunnya.

Rasa cemas, stres yang dialami tidak kunjung usai, dan beban pikiran terus bertambah sering kali diabaikan. Padahal, hal ini menjadi satu di antara faktor yang memengaruhi kesehatan mental.

Mungkin kita juga pernah mengalami depresi atau cemas. Namun, tidak semua dari kita mampu mengatasinya sendirian. Gangguan mental yang dibiarkan terus menerus dalam jangka panjang dapat menjadi gangguan jiwa berat.

Gangguan jiwa berat seperti schizophrenia atau psikosis di negara kita mencapai 400 ribu jiwa. Setjen Kemenkes pada Southeast Asia Mental Health Forum 2018 menyatakan bahwa 15,8 persen dari 13 juta keluarga yang dipantau, memiliki anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa berat seperti schizophrenia dan bipolar.

Angka tersebut hanya mewakili 20,24 persen dari total keluarga yang ada di Indonesia. Indonesia darurat kesehatan mental. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi?

Adanya stigma malu pergi ke psikolog maupun psikater karena takut dicap gila oleh lingkungan sekitar, kurangnya edukasi tentang kesehatan mental sejak dini, biaya obat yang mahal, serta minimnya jumlah tenaga medis di bidang kesehatan jiwa.

BACA JUGA  4 Prinsip Utama Menjadi Generasi Sandwich yang Bahagia

LEAVE A REPLY