Oleh: Johan FJR (Angkatan 7 SMART Ekselensia Indonesia, saat ini berkuliah di Universitas Gajah Mada Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI.

Kampus yang punya segudang fasilitas dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Chinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada.

Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan, alhamdulillah, semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu.

Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama, hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI.

Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi.

Tapi, takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbeda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) di tiap pilihannya.

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya.

Dan, semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4.

“Gantian woi!”

BACA JUGA  BNI Asset Management Salurkan 1.602 Paket Sembako kepada Dompet Dhuafa

LEAVE A REPLY