Ilustrasi anak sedih karena dibully. (Foto: Shutterstock)

Oleh: Adi Setiawan (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

ZNEWS.ID JAKARTA – Mendengar kata bully saja rasanya sesak sekali dada saya. Ada rasa sedih bercampur iba. Marah dan bingung. Tetapi, ada harapan sangat besar dari hati saya untuk kita semua supaya lebih berhati-hati untuk mendidik anak. Bisa-bisa, salah mendidik malah mematikan karakter dan kreativitas anak kita dalam tumbuh kembangnya.

Kasus bully seakan tak lekang oleh waktu, begitu dekat dan seperti yang tidak dapat dihindari lagi. Bully begitu melekat pada lidah kita. Tanpa kita sadari, kita sedang melakukan hal tersebut.

Jika kita pahami, anak mempunyai kemampuan yang serba terbatas, mereka merupakan pribadi yang sedang belajar untuk mengaktualisasi diri dan mengeksplor diri mereka seperti apa yang mereka inginkan.

Terkadang, dalam keadaan emosi tertentu, kita sebagai orang tua mudah untuk merendahkan serta membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Kita secara tak langsung sedang merampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Contoh yang sering ditemukan adalah pada saat pembagian rapor di sekolah. Orang tua sering melakukan bully kepada anak-anaknya. Padahal, sejatinya pembagian rapor merupakan ajang kita sebagai orang tua untuk senantiasa mengetahui hasil belajar dan hasil perjuangan anak-anaknya selama satu tahun.

Fenomena bully dari orang tua ini sering dilakukan, bentuknya pun beragam. Biasanya, orang tua kurang menyadarinya bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan bully.

Padahal, sebagai orang tua yang bijak hendaknya mereka mengatakan hal-hal yang baik. Berikan motivasi baginya serta peluklah mereka dengan pelukan hangat. Karena, itu dapat membuat mereka tenang dan merasa dihargai.

BACA JUGA  Survei Kemen PPPA: Anak Perempuan Rentan Depresi Selama Pandemi

LEAVE A REPLY