Ilustrasi: Permainan dam-dam. (Foto: Pixabay)

Oleh: Kitty Andriany

ZNEWS.ID JAKARTA – Tentang duniaku. Istana yang tak begitu megah. Ia adalah tempat tawa-tawa kekanakanku bertengger. Wadah kenakalan-kenakalan kecilku bersemi. Kenakalan yang lugu, lugas, dan lucu. Beberapa di antaranya adalah radar kecerdasanku.

Duniaku adalah istana tanpa raja dan ratu apalagi panglima dan prajurit. Istana mungil di mana aku bisa memainkan peran sebagai raja dan ratu, juga sesekali mengatur strategi sebagai panglima.

Aku juga siap berperan menjadi prajurit yang mempertahankan keutuhan istana. Bersama teman-teman, aku belajar banyak hal.

Seharusnya, aku tak didefinisi berdasarkan cetakan-cetakan instan yang disebut kemajuan zaman. Ah, kenyataannya? Kemajuan zaman yang bagi kebanyakan orang merupakan titik balik untuk maju, ternyata menjadi titik kemunduran bagiku. Istanaku tak lagi sama. Duniaku kini berbeda.

Dunia ini, kata guruku, kini telah rapuh. Aku memang masih tersenyum saat melihat tayangan-tayangan televisi di rumah atau di rumah kerabat, meski tayangannya tak pernah berpihak padaku.

Duniaku kini rapuh, walau aku masih bisa bermain saat berita di media menceritakan kemirisan kisah-kisah sebayaku di belahan Indonesia lain.

Duniaku kini rapuh, meski aku tetap belajar di saat teman-teman dilumat kekerasan. Duniaku rapuh, sejak senyumku juga teman-teman tak lagi dirawat. Mimpi-mimpi kami tercabik, dilumat gigi kekinian yang tak lagi bersahabat.

BACA JUGA  Peduli Guru Terdampak Corona, DD Jatim Gelar Souvenir Edukasi Ekonomi Syariah

LEAVE A REPLY