Ilustrasi utang. (Foto: Shutterstock.com

ZNEWS.ID JAKARTA – Islam sudah mengatur segala aspek kehidupan manusia secara umum dalam Alquran dan hadis. Salah satunya mengenai hukum utang dan piutang. Dalam bahasa Arab, utang disebut dengan Al-Qardh yang secara etimologi artinya adalah memotong.

Sedangkan, menurut syari atau kaidah Islam memiliki makna memberikan harta dengan dasar kasih sayang kepada siapapun yang membutuhkan dan dimanfaatkan dengan benar, serta akan dikembalikan lagi kepada yang memberikan. Maka itu, ini disebut juga sebagai pinjaman.

Utang diatur dalam Islam karena memang merupakan salah satu sektor kecil dalam urusan ekonomi umat. Utang juga bukan saja dilakukan oleh orang yang tidak mampu, namun juga oleh orang yang mampu atau memiliki banyak harta.

Banyak sekali permasalahan dan konflik yang hadir dari soal utang. Oleh karena itu, apapun yang bisa berdampak pada permasalahan sosial, Islam pasti akan mengatur, setidaknya secara prinsip umum karena persoalan teknis bisa saja berubah.

Dalil Islam tentang Berutang

Karena Islam cukup konsen terhadap permasalahan utang, maka ada beberapa dalil yang berkaitan dengan hal tersebut. Melansir dompetdhuafa.org, Rabu (7/10/2020), berikut beberapa dalil yang Islam berikan terkait permasalahan utang, yang perlu kita perhatikan.

Jangan Meninggal dalam Keadaan Memiliki Utang

Islam melarang umatnya untuk meninggal dalam keadaan memilili utang. Utang bisa menjadi pemberat dan penghapus kebaikan kita kelak dihisab di akhirat. Seperti yang disampaikan oleh hadis berikut.

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR Ibnu Majah)

BACA JUGA  Agama adalah Nasihat

LEAVE A REPLY