Ilustrasi. (Foto: npr.org)

Oleh: Ustaz Jauhar Ridloni Marzuq Lc MA

ZNEWS.ID JAKARTA – Dalam perjalanan sejarahnya, perempuan telah dizalimi oleh banyak perabadan. Kedudukannya dipandang lebih rendah dari laki-laki, diajadikan sebagai kambing hitam kesalahan dan sumber kehinaan umat manusia. Dianggap bukan bagian dari manusia atau setengah manusia dan dirampas hak-haknya, seperti untuk mendapatkan harta warisan, pendidikan yang layak, dan lain-sebagainya.

Ini terjadi bukan hanya pada peradaban di luar Arab, tapi terjadi juga pada masyarakat Arab sebelum Islam datang. Namun, ketika Islam datang dengan Alquran sebagai kitab sucinya, kedudukan perempuan dimuliakan sebagaimana mestinya.

Islam menetapakan karakteristik wanita sebagai makhluk yang dimuliakan bersama dengan lelaki. Diberikan kedudukan yang terhormat, memiliki tanggung jawab besar yang harus dipikulnya, baik di dalam maupun di luar rumah. Sampai pada peluang-peluang yang diberikan Islam kepada wanita agar mampu berpartisipasi secara sungguh-sungguh dan bermanfaat di dalam masyarakat.

Namun, seiring dengan pergantian zaman dan perputaran waktu, kedudukan wanita mengalami sedikit pergeseran, hingga sampai ke tingkat yang paling rendah seperti yang terjadi pada permulaan abad keempat belas Hijriah.

Kemudian, dengan bermulanya era penjajahan modern, terjadi pula benturan keras antara peradaban Barat dan masyarakat Islam, yang menimbulkan berbagai dampak sampingan, antara lain ditandai dengan munculnya dua aliran yang kontradiktif dalam memandang kedudukan perempuan.

Pertama, aliran yang terpengaruh dan silau dengan peradaban Barat sehingga menerima saja bulat-bulat manis pahit dan baik buruknya peradaban tersebut.

Kedua, aliran yang menutup mata secara total untuk kemudian hanya mau mengikuti warisan yang ditinggal para leluhur mereka tanpa melihat manfaat dan ketidakmanfaatnya.

BACA JUGA  Urgensi Belajar Sejarah Hidup Nabi

LEAVE A REPLY