ZNEWS.ID JAKARTA – Bung Alwi, terkejut saya dengar Bung dijemput malakul maut dini hari tadi.

Bung, engkau dijemput pada usia lanjut.
Tak semua orang mendapat karunia Allah seperti Abah.

Semoga husnul khotimah, Al Fatihah.

Bung Alwi, engkau seniorku di Antara.
Satu-satunya pensiunan yang saya ajak serta gabung, awali jaga gawang koran Republika tahun 1993.

Terbukti, engkau mampu tunjukkan sebagai reporter senior,
mantan wartawan istana zaman Pak Harto.

Engkau kenalkan aku lingkungan istana presiden.

Engkau antar aku ambil kupon jatah makan wartawan di warung nasi, sambil nongkrong, omong kosong.

Juga saya dengar darimu lelucon khas orang Arab.

Lucu deh, saya terkekeh setiap ingat kisah si kakek mengajak membunuh setan itu.

Bung Alwi, engkau juga saksi mata waktu Dompet Dhuafa (DD) saya inisiasi 2 Juli, 1993.

Bung, kami semua berkabung.

Bung Alwi, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Politisi mati meninggalkan simpati, benci, gunjingan miring.

Pedagang mati meninggalkan utang,
dhuafa mati tinggal tulang belulang.

Wartawan mati mewariskan tulisan.

Engkau adalah teladan.
Bung Alwi, selamat jalan!
Aku, yuniormu, temanmu.

(ph 17.9.20).

BACA JUGA  Parni Hadi: Jakob Oetama Guru Besar, Mata Air Wartawan Indonesia

LEAVE A REPLY