Kantor Jaksa Agung tersebut “menyelidiki kemungkinan pola pelanggaran yang lebih luas di wilayah utara Rakhine pada 2016-2017”, kata pihak militer dalam pernyataan itu.

“Tuduhan mengenai desa-desa di wilayah Maungdaw termasuk dalam ruang lingkup penyelidikan yang lebih luas ini,” kata militer, merujuk pada distrik di perbatasan dengan Bangladesh yang menjadi fokus operasi keamanan oleh militer pada 2017.

Namun, pihak militer Myanmar tidak memberikan rincian lebih lanjut dan seorang juru bicara militer tidak menjawab panggilan telepon dari Reuters untuk permintaan komentar lebih lanjut.

Pengakuan Dua Tentara

Pengumuman oleh pihak militer Myanmar itu menyusul laporan pekan lalu bahwa dua tentara Myanmar telah dibawa ke Den Haag untuk dihadirkan sebagai saksi atau diadili setelah mengaku membunuh puluhan penduduk desa di utara Negara Bagian Rakhine dan menguburkan mereka di kuburan massal.

Sebuah video tentang pengakuan dua prajurit Myanmar, Myo Win Tun dan Zaw Naing Tunf, membuka mata dunia tentang kekejaman militer Myanmar yang berusaha menumpas dan melakukan genosida terhadap etnis Rohingya.

Seperti dilansir The New York Times, dua tentara Myanmar itu mengakui melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap etnis muslim Rohingya, yang keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah Myanmar.

Laki-laki berusia tua dipenggal, sementara gadis-gadis muda diperkosa dan kerudung mereka disobek untuk digunakan sebagai penutup mata, menurut para saksi dan penyintas. Doctors Without Borders memperkirakan setidaknya 6.700 orang Rohingya, termasuk 730 anak-anak, mengalami kematian akibat kekerasan dari akhir Agustus hingga akhir September 2017. Sekitar 200 pemukiman Rohingya dihancurkan seluruhnya dari 2017 hingga 2019.

BACA JUGA  Dewan HAM PBB Diminta Hentikan Genosida pada Muslim Uighur

LEAVE A REPLY