Muslim etnis Rohingya berada di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Lhokseumawe, Senin (7/9/2020). Sebanyak 297 orang muslim rohingya terdampar di Aceh pada Senin, dini hari. (ANTARA/Khalis)

ZNEWS.ID, YANGON – Terkait desakan dewan Hak Azasi Manusia (HAM) PBB, Militer Myanmar mengatakan pihaknya sedang menyelidiki “kemungkinan pola pelanggaran yang lebih luas” sebelum dan selama tindakan keras pada 2017 di Negara Bagian Rakhine.

Sebelumnya PBB mengatakan, terjadi genosida terhadap kelompok Muslim Rohingya oleh militer Myanmar.

Lebih dari 730.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada 2017 setelah peluncuran kampanye keamanan besar-besaran yang menurut para pengungsi mencakup pembunuhan massal, pemerkosaan berkelompok, dan pembakaran.

Namun pihak Militer Myanmar membantah adanya aksi genosida dan mengatakan mereka melakukan operasi yang sah terhadap para militan Rohingya.

Militer Myanmar juga mengatakan telah mengadili beberapa tentara atas insiden di desa-desa tertentu di Rakhine meskipun rincian tentang pelakunya, kejahatan mereka, dan hukumannya belum diungkapkan.

Militer Myanmar, dalam sebuah pernyataan yang dimuat di media pemerintah pada Selasa (15/9/2020), untuk pertama kalinya mengakui kemungkinan adanya pola pelanggaran kemanusiaan yang lebih luas.

Pihak militer Myanmar menyebutkan bahwa Kantor Jaksa Agung yang dikelola militer telah meninjau laporan dari sebuah komisi yang didukung pemerintah yang menuduh tentara melakukan kejahatan perang dan telah menanggapinya dengan memperluas cakupan penyelidikan.

BACA JUGA  Indonesia Tegaskan Myanmar adalah Rumah Warga Rohingya

LEAVE A REPLY