(Foto: dompetdhuafa.org)

Oleh: Yonatan Y. Anggara

ZNEWS.ID JAKARTA – Semoga kita akan sadar kalau ukuran passion bukan hanya tentang suatu hal yang kita senangi. Passion tidak lantas berhenti pada titik kulminasi yang banyak dibangga-bangga kan di media sosial saat ini: pencapaian.

Semoga kita akan mengerti bahwa passion berbeda dengan titik nyaman. Bisa jadi, passion justru tumbuh dari sesuatu yang dipaksakan. Sesuatu hal yang dulunya sangat tidak mungkin untuk kita kerjakan.

Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu hal yang menjadikan kita bermanfaat. Artinya, passion tidak melulu tentang ketertarikan kita. Passion adalah hadiah dari ketekunan dan kedisiplinan kita.

Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu yang amat kita cintai. Bukan karena kita menyukai atau tertarik denganya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap rida Allah semata.

Lakukanlah setiap kebaikan dengan penuh ketulusan niat, niscaya passion akan tumbuh beriring dengan kebahagiaan yang semakin melapangkan hati.

Seperti halnya Abdurahman Bin Auf yang tidak ragu membantu banyak urusan umat muslim. Menyumbangkan harta-hartanya untuk umat.

Mungkin sebelum Rasul ada, ia tidak punya passion memberi semenakjubkan itu. Setelah Islam datang, ada suatu hal yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

BACA JUGA  Terkait Penusukan Ulama, Menag Ingat Nasihat Nabi pada Usamah

LEAVE A REPLY