Dompet Dhuafa Jawa Timur bersama Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) melakukan aksi Tebar Hewan Kurban (THK) hingga ke Desa Sumberjati, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID BANYUWANGI – Dompet Dhuafa Jawa Timur bersama Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) melakukan aksi Tebar Hewan Kurban (THK) hingga ke Desa Sumberjati, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi pada momen Iduladha 1441Hijriah.

Untuk mencapai Desa Sumberjati, tim Dompet Dhuafa Jawa Timur dan Me-DAN
harus melewati hamparan sawah dan hutan. Belum lagi, harus mempertimbangkan jalur yang hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat.

Namun, semangat yang dilakukan oleh relawan-relawan kemanusiaan itu sedikitnya mampu mengembalikan senyum hangat bagi mereka yang sedang dilanda kesusahan, khusunya warga Desa Sumberjati.

Salah satu penerima manfaat daging kurban THK Dompet Dhuafa 2020 adalah Waris (86). Kakek renta ini sehari-hari bekerja sebagai petani padi dan jagung. Ia juga seringkali menanam jeruk khas Banyuwangi.

Di usianya yang hampir memasuki kepala sembilan, Waris hidup berdua bersama sang istri. Untungnya, tiga dari kelima anak mereka masih berada di satu desa. Sehingga, kekeluargaan masih kental terasa di lingkungan mereka.

“Tiga anak saya masih di sini. Dua yang lainnya berada di luar. Satu di Sulawesi. Satu lagi di Sidoarjo,” katanya, memulai obrolan.

Ia menuturkan, beberapa bantuan dari pihak-pihak lainnya sudah mulai masuk ke desa tempat tinggalnya, termasuk bantuan dari pemerintah.

“Pemerintah, alhamdulillah, suka mengirimkan bantuan berupa beras dan daging ayam. Satu bulan sekali atau tiga bulan sekali. Namun, tidak semuanya dapat bantuan,” ungkapnya, sambil mencoba mengingat kembali ingatannya yang dimakan usia.

Meski demikian, Waris mengaku senang mendapat jatah daging kurban dari THK DD Jatim. Dia merasa diperhatikan.

“Tapi, alhamdulillah, saya senang mendapatkan daging kurban ini. Dengan ini kami jadi merasa diperhatikan. Dengan ini, setidaknya mampu menutupi kebutuhan sehari-hari kami,” ucapnya.

BACA JUGA  Berbagi Berkah Kurban di Wilayah Timur Indonesia

Walaupun sudah dapat bantuan dari pemerintah dan mendapatkan hasil penjualan dari tani, ia mengaku bahwa kebutuhan sehari-hari belum tercukupi. Alhasil, kadang ia suka utang sana sini.

Hasil tani yang semakin murah menjadi salah satu alasan mengapa ia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Dulu, 1 kg jeruk dihargai Rp 4000. Sekarang malah menjadi Rp 2500,” kata kakek yang mengenakan sarung dan peci yang sudah lusuh itu.

Oleh: Fajar
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY