Ilustrasi anak adalah investasi yang tidak ada habisnya. (Foto: Makmal Pendidikan)

Oleh: Siti Sahauni (Alumni KAWAN SLI)

ZNEWS.ID JAKARTA – Setiap anak yang lahir ke dunia lahir dalam keadaan fitrah, suci, dan bersih. Bahkan bau surga masih menyelimuti mereka. Kedua orang tuanyalah yang mengantarkan mereka menjadi orang lain. Seperti yang diterangkan dalam hadis riwayat Muslim,

“Setiap bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang membuat bayi itu menjadi Yahudi atau Majusi”.

Di era modern ini, peran orang tua baik di daerah maupun di kota tidak jauh berbeda. Mereka memiliki andil besar dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pribadi yang tidak hanya unggul di segi pendidikan, juga pada akhlakul kharimahnya.

Pada beberapa kalangan orang tua, persoalan pendidikan selalu dikaitkan dengan ekonomi. Misalnya, bagi orang tua yang strata ekonominya berada di bawah rata-rata, sekolah bukan menjadi suatu keharusan. Sehingga, ketika mereka dapat mengupayakan anaknya sekolah bahagianya bukan kepalang. Meski hanya sampai pada tingkatan tertentu saja.

Ketiadaan ekonomi akhirnya memunculkan masalah klasik yang cukup pelik dan getir. Sehingga, tiada kekhawatiran bagi orang tua yang berada di bawah garis kemiskinan.

Karena, kekhawatiran mereka telah dialihkan pada kenyataan akan keberlangsungan hidup. Yang tak dapat ditampik kemudian memaksanya untuk sedikit mengacuhkan dua hal yang sebenarnya memberikan pengaruh besar pada anak-anaknya di kemudian hari.

Secara tidak langsung, orang tua yang melakukan tindakan demikian sebenarnya tengah membunuh mimpi anaknya pelan-pelan. Mimpi di mana suatu saat nanti anaknya akan membawa perubahan besar, tidak hanya mengubah strata pendidikan pada keluarganya. Dirinya juga untuk daerahnya, suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya.

Ketakutan serta kekhawatiran yang dirasakan oleh orang tua memang naluriah. Namun, sungguh pun demikian, ketidakcukupan sandang dan pangan menjadi penghalang untuk memenuhi kebutuhan anaknya.

Maka, mereka telah meragukan pencipta-Nya dan tidak mengakui kebesaran-Nya. Sebab, Allah SWT menegaskan agar kita tidak takut miskin hanya karena mempunyai anak.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka,”. (Qs. Al-An’am:151)

Karena, harta yang kita miliki tidak hanya sebatas materi. Melainkan memiliki seorang anak.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. (QS. Al kahfi: 46)

Anak yang saleh dan salehah dambaan setiap orang tua. Terlepas dari itu semua, keutamaan kedua orang tua tidak hanya membesarkan anaknya, melainkan memberikan peneladanan.

Karena, pendidikan yang pertama kali diperoleh anak adalah ketika mereka berada dalam lingkungan rumah yakni keluarga, bapak dan ibunya. Sehingga tindak tanduk orang tua tidak akan terlepas dari sorotan anaknya.

Orang tuanyalah yang akan menjadi agen perubahan bagi anaknya. Sikap dan sifat yang melekat pada diri seorang anak juga tergantung dari orang tuanya.

Sehingga, sejatinya sebagai orang tua yang baik dimata orang lain dan pencipta-Nya adalah mereka yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pendidikan umumnya saja. Melainkan juga diberikan kekuatan pondasinya melalui pembekalan agama.

Pendidikan agama memang diperoleh anak ketika mulai masuk sekolah. Tetapi, kadar yang diberikan oleh sekolah jauh lebih banyak diterima ketika anak berada di dalam rumah. Bimbingan seorang ibu yang telah melahirkan akan lebih mengena ketimbang orang lain.

Allah SWT memaparkan dengan jelas bahwa orangtua amat berperan penting dalam mengarahkan dan menanamkan ketauhidan kepada anaknya.

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang maruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya  yang demikian itu termasuk perkara yang penting”. (QS. Luqman:17)

Alangkah besarnya pengaruh orang tua terhadap investasi masa  depan seorang anak. Mereka yang telah menyadari perannya dengan baik maka menanam kebaikan pada seorang anak akan terbiasa dilakukan.

Apalagi bila kebaikan yang dibiasakan dapat membawa keberkahan pada anaknya. Anak adalah investasi yang tidak ada habisnya.

Bahkan, memiliki seorang anak yang membanggakan tidak akan menjadi sia-sia. Karena, benih kebaikan yang kita berikan suatu hari nanti akan berkembang cantik lagi indah rupanya. Mengharumkan kita. Orang tuanya di dunia dan akhirat.

LEAVE A REPLY