Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping . (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque)

ZNEWS.ID, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) selalu menjadi negara adi daya dan berusaha keras menanamkan pengaruh mereka di dunia. Di era perang dingin, ada kekuatan pembanding bernama Uni Soviet yang mengimbangi setiap manuver AS di dunia.

Namun setelah kebijakan glasnost (keterbukaan politik) dan perestroika (restrukturisasi ekonomi) yang digagas pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev pada akhir 1980-an gagal, Uni Soviet pun akhirnya bubar pada 1990.

Hancur leburnya Uni Soviet membuat AS sendirian berusaha mengendalikan dunia lewat kekuatan militer dan ekonomi mereka.

Namun kebangkitan China yang perlahan tapi pasti, kini telah membuat langkah-langkah kebijakan tersandung di mana-mana.

Reformasi ekonomi yang dijalankan China sejak 1978 telah membuat negara itu menjadi negara adidaya seperti sekarang ini. Dalam waktu tiga dekade China telah melakukan kebangkitan luar biasa di bawah kepemimpinan empat presiden, Deng Xiaoping hingga XI Jinping.

Dilansir CNBC, pada 2010, China mengambil alih posisi Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia. Posisi tersebut berhasil dipertahankan sampai sekarang. Beberapa ekonom bahkan memprediksi ekonomi China akan melesat melampaui rivalnya AS pada 2030. Kesuksesan ini mengantarkan China menjadi kekuatan ekonomi dunia baru.

China memiliki jaringan pabrik, pemasok, layanan logistik, dan infrastruktur transportasi yang rumit, yang didukung oleh uang dan teknologi dari Jepang, Taiwan, dan Hong Kong. Negara itu juga memiliki tenaga kerja yang banyak, murah, cerdas dan mendapatkan akses hampir tanpa batas ke pasar global selama tiga dekade ini.

Menjelma menjadi raksasa Ekonomi baru, membuat China semakin percaya diri. Beijing pun mulai lantang menentang hegemoni AS di bidang perdagangan dunia. Gesekan-gesekan terus terjadi di antara dua negara besar.

BACA JUGA  Ahad Pagi Internet AS dan Eropa Barat Mati Total, Kenapa?

AS yang selalu mencampuri urusan dunia, terus berusaha menekan China. Dari mulai soal perdagangan, teknologi di antaranya terkait masakah Huawei, isu Uighur, hukum keamanan nasional yang diberlakukan terhadap Hong Kong hingga klaim China di Laut Cina Selatan.

Penyebaran Virus Corona di dunia yang berawal dari kota Whuna, China pun kian memperparah hubungan dua negara.

Meski belum terjadi kontak senjata di antara keduanya, namun saling unjuk kekuatan militer di antara AS dan China kerap terjadi di Laut China Selatan.

Di titik ini, AS seakan kehabisan akal menghadapi China. Mengambil keputusan militer terlalu beresiko, namun dibiarkan juga seakan menyimpan api dalam sekam.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan dalam pidatonya bahwa AS dan sekutunya harus menggunakan “cara yang lebih kreatif dan tegas” untuk menekan Partai Komunis China untuk mengubah caranya, menyebutnya sebagai “misi zaman kita”.

Teranyar, AS memerintahkan konsulat China di Houston untuk ditutup dengan alasan perlunya melindungi kekayaan intelektual dan informasi Amerika di tengah memburuknya hubungan kedua negara.

Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi penutupan Konsulat China di Houston yang akan datang, setelah Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah diperintahkan untuk menutup kantor perwakilan mereka.

Penutupan itu telah diperintahkan “untuk melindungi kekayaan intelektual Amerika dan informasi pribadi Amerika”, kata Juru Bicara  Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus dalam sebuah pernyataan.

“Amerika Serikat tidak akan menoleransi pelanggaran RRC terhadap kedaulatan dan intimidasi terhadap orang-orang kami, sama seperti kami tidak menoleransi praktik perdagangan yang tidak adil RRC, pencurian pekerjaan Amerika, dan perilaku mengerikan lainnya,” tambahnya, merujuk pada China dengan nama resminya, RRC.

Beijing mengutuk perintah penutupan itu dan melakukan pembalasan.

BACA JUGA  Hubungan India-China Memanas, “TikTok” pun Dianggap Mengancam Kedaulatan Negara

“Penutupan secara sepihak konsulat jenderal China di Houston dalam waktu singkat adalah eskalasi tindakan baru-baru ini terhadap China,” kata Juru Bicara Kemlu China Wang Wenbin dalam jumpa pers.

Pemerintah AS telah melecehkan diplomat dan staf konsuler China selama beberapa waktu, kata Wang, serta “mengintimidasi dan menginterogasi mahasiswa China dan menyita perangkat listrik pribadi mereka, bahkan menahan mereka”.

Sebagai balasan, China akhirnya memerintahkan Amerika AS menutup konsulatnya di Kota Chengdu, Jumat (24/7/2020), sebagai tindakan balasan atas permintaan AS menutup Konsulat China di Houston dalam minggu ini.

“Kementerian Luar Negeri China memberi tahu Kedutaan Besar AS di China mengenai keputusan untuk menarik persetujuannya untuk pendirian dan operasi Konsulat Jenderal AS di Chengdu,” kata Kemlu China dalam sebuah pernyataan.

“Konsulat Chengdu lebih penting daripada konsulat Wuhan karena di situlah AS mengumpulkan informasi tentang Tibet dan pengembangan senjata strategis China di daerah tetangga,” kata Wu Xinbo, seorang profesor dan pakar studi Amerika di Fudan University di Shanghai.

Konsulat Chengdu menjadi terkenal pada 2012 ketika Wang Lijun, kepala polisi di dekat kota Chongqing, berusaha untuk membelot di sana, titik pemicu dalam skandal dramatis yang menjatuhkan bintang politik Bo Xilai yang sedang naik daun.

Reaksi Masyarakat

Pengguna media sosial China, yang mengecam perintah AS untuk menutup konsulat di Houston, memuji respon pembalasan tersebut.

Komentar, “mari kita merenovasinya menjadi restoran hotpot!”, sebuah referensi untuk hidangan serba rebus yang populer di Chengdu, mendapat 100.000 suka di akun Weibo seperti dilansir lembaga penyiaran CCTV.

“Yang paling saya khawatirkan adalah AS yang tidak akan mungkin berhenti sampai sini, mungkin saja akan terjadi yang lebih buruk,” ujar Zhang Chuhan (19), seorang mahasiswa.

BACA JUGA  Raja Salman Inginkan Solusi Adil untuk Palestina

Sementara Jiang (29), mengatakan, “Saya setuju. AS telah menutup konsulat kami, maka saya kira kami harus menutup konsulat mereka juga.”

Kita tunggu, sampai di titik mana kedua negara akan berselisih.

 

Editor: Dhany

LEAVE A REPLY