Ilustrasi kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Pada dasarnya, setiap ibadah yang kita lakukan sesuai dengan lillahi taala. Namun, berbeda jika niat kita diperuntukkan untuk tujuan lain seperti kurban yang dinazarkan serta kurban yang biasa kita selenggarakan pada saat Hari Raya Iduladha. Keduanya terlihat sama namun memiliki tujuan yang berbeda.

Sebelum membahas tentang perbedaan kurban nazar yang wajib dan kurban Iduladha yang sunah, mari kita bahas terlebih dahulu pengertiannya berikut ini.

Pengertian Kurban dan Nazar

1. Kurban

Kurban atau disebut al udh-hiyyah dalam bahasa Arab memiliki arti menyembelih binatang ternak berkaki empat terhitung mulai selesai salat Iduladha pada 10 Zulhijah hingga hari Tasryik dari 11, 12, dan 13 Zulhijah dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

عَنْ جُنْدَبٍ أَنَّهُ شَهِدَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ النَّحْرِ صَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ « مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى ، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

Dari Jundab, ia menyaksikan Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu beliau berkhutbah dan bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum salat Id, hendaklah ia mengulanginya. Dan, yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut ‘bismillah’,”. (HR. Bukhari No. 7.400)

Kurban inilah yang disebut juga sebagai kurban Iduladha yang hukumnya sunah muakad atau ibadah sunah yang dianjurkan oleh Allah SWT.

2. Nazar

Dilansir dari rumaysho.com, nazar merupakan mewajibkan dirinya sendiri untuk melakukan suatu perkara yang sebenarnya tidak wajib dilaksanakan. Beberapa ulama melarang nazar karena dianggap meremehkan takdir Allah SWT. Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’,” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

Bagi seseorang yang sudah menjanjikan nazar ini, Allah mengharuskan kita untuk tetap melakukannya sesuai nazar yang diinginkan. Seperti firman Allah,

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka”. (QS. Al Hajj: 29)

Allah SWT juga memuji orang-orang yang menunaikan nazarnya,

إِنَّ الأبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا (٥)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (٦)يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (٧)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 5-7)

Perbedaan Kurban Nazar dan Kurban Iduladha

Setelah mengetahui pengertian dari kurban dan nazar, barulah kita masuk kepada perbedaan antara kurban nazar serta kurban Iduladha.

Kurban yang diniatkan secara nazar tetap diberlakukan sebagai kurban yang wajib. Hal ini dikarenakan nazar merupakan niat yang benar-benar harus dilakukan. Terlebih, Allah suka orang-orang yang menyempurnakan nazarnya.

Sedangkan, kurban yang dilaksanakan setiap Idul adha merupakan kurban yang hukumnya sunah. Inilah perbedaan yang mendasar antara kurban nazar dan kurban sunah. Lantas, bagaimana perbedaan syarat dan ketentuan antarkeduanya? Berikut penjelasannya.

1. Orang yang Mengonsumsi Daging Kurban

Dilansir dari islam.nu.or.id, terdapat perbedaan siapa yang berhak memakan daging kurban antara kurban nazar dan kurban sunah tersebut. Untuk kurban wajib atau nazar, orang yang berhak memakan daging ini tidak boleh dimakan oleh pekurban atau keluarga yang terlibat. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar memaparkan bahwa

“Orang berkurban dan orang yang wajib ia nafkahi tidak boleh memakan sedikitpun dari kurban yang dinazari, baik secara hakikat atau hukumnya”. (Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, Tausyikh ‘Ala Ibni Qasim, hal. 531)

Sedangkan untuk orang yang berniat kurban untuk Iduladha, mereka (pekurban) diperbolehkan untuk memakan sebagian dari kurbannya. Namun, lebih utama lagi jika daging kurban tersebut diambil sesuap dan sisanya untuk disedekahkan. Sebagaimana firman Allah,

فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ

“Makanlah darinya dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan”. (QS. Al-Hajj: 28)

2. Daging Kurban yang Wajib Disedekahkan

Adapun orang-orang yang berhak menerima kurban yang telah ditetapkan sesuai syarat kurban adalah orang yang berniat kurba (pekurban), fakir dan miskin. Sebagaimana firman Allah,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Artinya: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. (QS. Al-Hajj: 28)

Pembagian kurban di atas tersebut merupakan pembagian kurban untuk kurban yang dilaksanakan pada Iduladha, lalu bagaimana dengan kurban nazar?

Untuk kurban nazar, pembagian kurbannya hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang membutuhkan. Seorang pekurban tidak boleh mengambilnya karena ia yang melakukan nazar untuk berkurban. Sehingga, yang mendapatkan hanyalah orang-orang yang tidak mampu dilihat dari Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 6, hal. 135.

3. Bacaan Niat Kurban Wajib dan Sunah

Kembali lagi kepada niat. Karena, setiap apa yang kita lakukan berdasarkan niat kita yang terdalam. Berikut niat seseorang yang diucapkan ketika ingin berkurban nazar,

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْوَاجِبَةَ عَنْ نَفْسِيْ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku niat berkurban wajib untuk diriku karena Allah”.

Selanjutnya, niat seorang pekurban ketika akan berkurban untuk Iduladha,

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ عَنْ نَفْسِيْ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku niat berkurban sunah untuk diriku karena Allah”.

Jika kita ingin berkurban untuk lain, maka nama orang tersebut perlu ditambahkan baik untuk kurban yang wajib maupun yang sunah.

Itulah perbedaan dari kurban nazar yang bersifat wajib dan kurban Iduladha yang sunah. Keduanya sama-sama baik karena kurban memiliki arti melaksanakan ibadah untuk Allah semata.

Oleh: Maulidina Ramadhani
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY