Ilustrasi berpuasa. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Hari ini, umat muslim memasuki bulan yang sangat mulia, yaitu Zulhijah. Zulhijah merupakan bulan ke 12 dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu bulan suci dan dimuliakan.

Banyak peristiwa besar dalam Islam terjadi di bulan ini. Umat muslim bahkan tak dianjurkan berperang saat Zulhijah, kecuali sekadar membela diri.

Zulhijah sama istimewanya seperti Ramadan. Karena, Allah SWT memberikan banyak peluang kepada umat Islam untuk memperbanyak amalan-amalan saleh dengan tujuan dan niat hanya mengharapkan keberkahan dari-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan informasi tentang hal ini dalam hadisnya.

Dari Abu Bakar radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan Hari Raya: bulan Ramadan dan bulan Zulhijah”. (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089)

Bagi umat muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji dapat memperbanyak  amalan yang dianjurkan. Amalan apa saja itu? Simak penjelasan tentang amalan istimewa bulan Zulhijah berikut ini.

1. Memperbanyak Puasa

Perbanyak amalan saleh di 10 hari pertama Zulhijah dengan berpuasa. Seperti yang diriwayatkan dalam hadis.

“Tidak  ada hari di mana suatu amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Zulhijah). Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah termasuk lebih utama dari jihad fii sabilillah?’. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, ‘termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh)’,”. (HR. Ahmad, Bukhari dan Turmudzi)

Amalan yang dilakukan selama 10 hari pertama Zulhijah menjadi amal yang sangat dicintai Allah. Pahalanya dapat melebihi amal saleh yang dilakukan di luar batas waktu itu.

2. Puasa 9 Hari Pertama dan Puasa Arafah

Abu Qatadah radliallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

صيام يو م عر فة أ حتسب على الل أن يكفّر السنة لتي  قبله ، والسنة لتي ه بعد

“…Puasa hari Arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..”. (HR. Ahmad dan Muslim)

Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura, sembilan hari pertama Zulhijah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani)

3. Memperbanyak Zikir, Takbir, dan Tahlil

Para ulama menganjurkan agar umat islam memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid pada bulan Zulhijah. Takbir juga diucapkan setiap selesai salat fardu di masjid, pada Hari Raya Iduladha sampai hari Tasyrik di sore hari (saat salat Asar). Selain itu, ketika hendak perjalanan ke lapangan atau masjid untuk salat Id disunahkan mengucapakan:

“Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah, walllahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamdu”.

Hadis dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 – 10 Zulhijah. Oleh karena itu perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu”. (HR. Ahmad)

Dalil anjuran memperbanyak zikir di sepuluh awal Zulhijah ini adalah, “Dan, supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…..”. (Surah Al-An’am ayat ayat 28)

4. Melaksanakan Salat Id

Selain rangkaian ibadah di atas pada Zulhijah, kita juga akan melaksanakan salat Id seperti Idulfitri. Rasullullah SAW bersabda:

“Dari Anas bin Malik radlhallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya, ‘Dua hari apakah ini?’. Mereka menjawab, ‘Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian, Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik: Idulfitri dan Iduladha’,”. (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan al-Albani)

5. Menyembelih Hewan Kurban

Tidak asing lagi perayaan Hari Raya Iduladha diiringi dengan berkurban. Karena, berkurban merupakan salah satu ibadah dengan memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Adapun untuk jenis hewan yang dikurban harus sesuai syariat,  boleh kambing ataupun sapi sesuai kemampuannya.

Dari Abu Hurairah radliallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memililki kelapangan namun dia tidak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dihasankan Al-Albani)

Sesungguhnya, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kausar ayat 2 yang artinya: “Laksanakanlah salat untuk Rab-mu dan sembelihlah kurban”. (QS. Al-Kautsar: 2)

“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya”. (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Al-Hakim)

6. Mandi Sebelum Iduladha

Sebelum beribadah menghadap kepada Allah SWT, kita wajib membersihkan diri dan pakaian kita dari debu, kotoran ataupun najis. Hal ini agar ibadah yang dilakukan dalam keadaan suci dan dapat mudah diterima oleh Allah SWT.

“Seorang lelaki bertanya kepada Ali radhiallahu’anhu tentang mandi, ia menjawab: ‘Mandilah setiap hari jika engkau mau’. Lelaki tadi berkata: ‘bukan itu, tapi mandi yang benar-benar mandi’. Ali menjawab: ‘Mandi di hari Jumat, Idulfitri, Iduladha, dan hari Arafah’,”. (HR. Al Baihaqi)

7. Tidak Makan Sebelum Salat Id

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah menerangkan bahwa,

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasanya tidak keluar pada hari Idulfitri hingga makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada hari Iduladha hingga beliau kembali dari salat” (HR. Ibnu Majah)

Kemudian Ibnu Qudamah rahimahullah juga berkata,

“Imam Ahmad berkata: ‘Saat Iduladha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan kurban. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam makan dari hasil sembelihan qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban (tidak berqurban), maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum salat Id’,”. (Al Mughni 2: 228)

Dari penjelasan Imam Ahmad yang dinukil dari Ibnu Qudamah di atas bahwa sunah untuk tidak makan sebelum shalat Iduladha. Hal ini hanya berlaku untuk orang yang memiliki hewan kurban sehingga ia bisa makan dari hasil sembelihannya nanti. Sedangkan, jika tidak memiliki hewan kurban, maka tidak berlaku.

Oleh: Syaputri Febrina Sari
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY