Artijo, pendiri peternakan ‘Kembeng Makmur’ di Desa Awar-awar, Dusun Timur, RT 01/RW 03, Kecamatan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID SITUBONDO – Dompet Dhuafa memberdayakan 70 mitra ternak di berbagai daerah di Nusantara. Salah satunya peternakan ‘Kembeng Makmur’ di Desa Awar-awar, Dusun Timur, RT 01/RW 03, Kecamatan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Didirikan oleh Artijo dan rekan-rekan lainnya dibawah binaan Dompet Dhuafa sejak tahun 2011.

Pada program THK (Tebar Hewan Kurban) Dompet Dhuafa tahun 2019, Kembeng Makmur menebar hewan kurban sebanyak 645 ekor doka (domba kambing). Artijo mengaku, ternaknya mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, ia dan rekan-rekannya harus menambah jumlah kandang sebab domba-dombanya semakin berdesakan.

Di depan salah satu kandangnya, rekan-rekan Artijo memodifikasi dua truk. Masing-masing truk diukur tiap sudutnya. Di samping truk, rekan Artijo memilah-milah bambu menjadi beberapa bagian. Didapati pula pada sisi kirinya potongan-potongan kayu dan bambu dengan gergaji di atasnya.

Di sudut lain, satu truk selesai dimodifikasi. Truk terlihat layaknya kandang bertingkat, dibatasi dengan bilah-bilah bambu yang terikat, serta jerami dan dedaunan yang sudah disayat. Dua truk itu seakan menjadi kandang berjalan yang akan digunakan Artijo untuk mengangkut 175 hewan kurban saat itu.

Sebanyak 75 ekor doka dinaikkan ke atas truk yang sudah selesai. Sedangkan 100 ekor lainnya, akan dinaikkan ke truk yang masih dalam tahap modifikasi. Total 175 ekor doka tersebut diangkut ke Pulau Dewata untuk dikurbankan esok hari ketika Iduladha.

Selain itu, Artijo dan rekannya telah mempersiapkan beberapa mobil pick-up untuk mengangkut domba-domba lainnya menuju beberapa lokasi berbeda di Situbondo dan wilayah sekitarnya. Menurutnya, sebanyak 640 dombanya telah berhasil terjual untuk THK Dompet Dhuafa 2019.

Artijo menemukan formula apik bagi domba-dombanya. (Foto: dompetdhuafa.org)

“THK tahun 2019, Ternak Kembeng Makmur menebarkan 640 ekor domba ke beberapa daerah untuk THK Dompet Dhuafa. Sebanyak 100 ekor di kirim ke Pulau Sapudi, Madura. Kemudian, 50 ekor dikirim ke Bondowoso. Ada juga 100 ekor yang ke Banyuwangi, dan 175 ekor diangkut ke Bali. Kemudian sebanyak 215 ekor untuk ditebar di wilayah Situbondo dan sekitarnya. Untuk yang di Sapudi sudah kami kirim Kamis kemarin”, aku Ketua Kelompok Ternak Kembeng Makmur itul.

BACA JUGA  THK Dompet Dhuafa Hadir hingga Ujung Selatan Sulawesi

Sudah14 tahun Artijo berkiprah di dunia peternakan. Itu yang membuatnya begitu memahami luar dalam seputar ternak doka (domba kurban). Mulai dari pemilihan bibit, pengembang-biakan, pakan, hingga pemasaran.

Suka maupun duka ia alami sejak tahun 2005 silam. Kini, ternak Artijo telah berkembang. Pun, konsep pemberdayaan Dompet Dhuafa membersamainya.

Artijo memahami betul jenis dan kriteria domba mana saja yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ia juga memilah sesuai kriteria dan kebutuhan masyarakat antara domba untuk kurban, aqiqah, serta yang akan dijual di pasaran. Kualitas daging menjadi hal mendasar bagi Artijo dalam mengembangkan ternaknya. Pakannya pun tak bisa sembarangan.

Usai melakukan pengkajian dan eksperimen terhadap hewan-hewannya, Artijo menemukan formula apik bagi domba-dombanya. Sehingga, domba yang diternaknya memiliki nilai nutrisi yang tinggi nan tepat, daging yang padat, serta mengalami perkembangan yang cukup cepat.

Terbukti ketika domba-domba Artijo dilakukan uji kualitas, sebagian besar domba yang ditargetkan untuk Tebar Hewan Kurban (THK) dinyatakan lolos oleh tim Quality Control Dompet Dhuafa.

Kandang Artijo sangat bersih, kotoran maupun sampah tidak ada yang tercecer, bahkan bau kotorannya pun tak tercium. (Foto: dompetdhuafa.org)

“Tahun 2009, saya mulai menyediakan pakan sendiri. Bahan pakan untuk domba-domba ini adalah kulit kedelai, dedek (abu kulit padi), ampas tahu, kopra (ampas kelapa), gaplek (kulit tape). Itu kami aduk jadi satu dengan air untuk minumnya. Kalau untuk makannya, tumbuhan jagung yang masih segar. Sebagian dicacah, sebagian diberikan utuh”, ungkap Artijo.

Selain pakan, Artijo juga sangat memerhatikan kebersihan domba dan kandangnya. Dibuatnya kandang yang bersih, serta tidak berdesakan, namun tidak juga terlalu longgar. Tujuannya, domba-domba merasa lebih nyaman sehingga meningkatkan nafsu makan.

“Untuk kandang kami bikin sebersih mungkin. Lihat saja tidak ada kotoran atau sampah di sini”, tunjuknya.

Di bawah kandang, dibuatnya alas semacam terpal, untuk mengumpulkan kotoran-kotoran, kemudian langsung diturunkan ke pipa bawah tanah. Pipa-pipa tersebut mengarah pada lubang semacam sumur untuk dikumpulkan.

BACA JUGA  Cara Dompet Dhuafa Menjaga Kepercayaan Para Pekurban

Tidak sampai di situ, kotoran yang telah dikumpulkan, diolahnya kembali dengan mesin tertentu untuk dijadikan pupuk. Setelahnya dibagikan kepada para petani sekitar untuk memupuk pohon cabai dan pisang.

Terlihat memang, kandang Artijo sangat bersih. Domba-dombanya terlihat sangat sehat serta memiliki nafsu makan yang tinggi. Kotoran maupun sampah tidak ada yang tercecer, bahkan bau kotorannya pun tak tercium.

Oleh: Muthohar
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY