Ilustrasi anak IPS. (Foto: Istock/SDI Productions)

Oleh: Reza Bagus Yustriawan (Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017)

ZNEWS.ID JAKARTA – Anak Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau, ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orang tua zaman dulu.

Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu! Karena, anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

Namun, suka duka sebagai anak IPS, ya, banyak juga, sih. Di antaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan.

Padahal, nih, ya, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda, hehe.

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS. Misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya).

Jadi, kalau belajar, ya, gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali—misal di kantin, ngitung utang—.

Hayoo… Ngaku…

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak. Salah satu yang paling bikin kesal itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal.

Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya, nggak? Ngaku! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi Hari Kesaktian Pancasila?

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer, lah, labu melerleyer, lah, spiritus, lah.

Eh! Jangan salah! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta, lah, buat peta, lah, menggali fosil, lah, buat peta sambil menggali fosil, lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba, lah. Ribetan mana, hayo??

Yaa, ribet dua-duanya, lah.

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog, nggak ada yang bisa nolongin orang stres. Kalau terlalu banyak orang stres, semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati.

Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS, ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget, kan, akibatnya??

 

LEAVE A REPLY