Fakhri Muhammad Al Firdaus (kanan), salah satu Penerima Manfaat Beasiswa Cikal. (Foto: SGI)

ZNEWS.ID BOGOR – Fakhri Muhammad Al Firdaus, salah satu Penerima Manfaat Beasiswa Cikal yang baru saja lulus sekolah dasar (SD) di SD Pelita Atsiri Permai, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Prestasinya memuaskan, baik di bidang akademik maupun non akademik.

Meskipun secara kecerdasan kognitif dan sosial Fakhri memiliki kemampuan yang luar biasa, namun secara emosional dan psikologis, Fakhri mengalami luka cukup dalam, yang menyebabkan dirinya cengeng dan kurang mampu mengontrol emosi kemarahan kepada ibunya.

Fakhri merupakan anak pertama dari pasangan guru honorer di kota metropolitan Jakarta. Dengan gaji yang tak seberapa, orang tua Fakhri dengan sangat terpaksa harus menitipkan Fakhri tinggal bersama neneknya di kampung sampai berusia 3 tahun.

Disusul pada saat Fakhri berusia 6 tahun, ayah Fakhri meninggal dunia. Saat itu, ibunya mengalami goncangan jiwa sehingga tanpa disadari Fakhri sering mengamati perilaku ibunya yang emosional dan sering menangis. Sehingga, tak jarang dia menjadi imbas kesedihan ibunya.

Seiring berjalannya waktu, ibunya baru menyadari arti kehidupan hanyalah milik Allah semata dan ikhlas dengan takdir yang sudah ditentukan. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, perilaku ibunya itu terekam oleh otak Fakhri sehingga membentuk pribadinya sama seperti yang ditampilkan ibunya saat itu, yaitu “emosional dan cengeng”.

Serangkaian peristiwa masa kecil Fakhri juga membuat dia memiliki sifat pemarah dan menyalahkan ibunya. Setiap kali Fakhri marah, ibunya sedih dan kembali timbul penyesalan yang amat dalam atas semua masa lalunya.

Mereka kini tinggal di Bogor, sudah jalan tahun ke enam dari kematian ayahnya. Perilaku Fakhri belum berubah, ia masih emosional, tidak disiplin dalam beribadah, sering bangun siang, banyak main game dan bahkan membantah ibunya dengan intonasi suara tinggi. Namun, ibunya juga tidak bisa menyalahkan kondisi Fakhri. Hanya berdoa dan bertaubat setiap hari yang bisa dilakukan ibunya.

BACA JUGA  Pupuk Jiwa Guru Pemimpin, SGI Gelar ITL Fest 2022
Pembiasaan positif program Beasiswa Cikal-Fakhri mengajarkan adiknya mengaji di rumah. (Foto: SGI)

Kini, kondisi ibunya jauh lebih baik. Bisa tenang menghadapi permasalahan dan kehidupannya pun berubah lebih baik. Fakhri suka menuntut ibunya untuk mengikuti kemauannya dan iseng membuat adiknya menangis. Hal ini ia lakukan secara sengaja untuk memancing kemarahan ibunya.

Sebenarnya, Fakhri memiliki kelebihan dalam kecerdasan sosial. Dia senang membantu teman-temannya. Dia pribadi yang menyenangkan, terbukti memiliki banyak teman, sering berbagi makanan, menjadi pemimpin di setiap upacara, ketua Kelas, ketua kelompok belajar, juara 2 dalam karate, juara 1 dalam marawis, menyukai Futsal, dan lain-lain. Secara sosial, dia baik-baik saja, tapi perilaku menyalahkan ibunya belum berubah.

Pada pertengahan bulan Desember 2019, Fakhri menerima program Beasiswa Cikal Muamalat bersama SGI yang diselenggarakan oleh Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa, bekerja sama dengan Baitulmal Muamalat. Fakhri salah satu siswa yang terseleksi dan lolos sebagai penerima manfaat.

Selain mendapatkan bantuan SPP, Fakhri dibina secara intensif oleh guru (aktivis SGI) terutama dalam hal karakter, spiritual, dan keterampilan. Guru membina Fakhri secara intensif dengan menanamkan karakter-karakter positif kepadanya melalui kisah teladan, konseling pribadi, ice breaking, dan pembiasaan positif.

Sebagai penerima manfaat, Fakhri melaksanakan banyak sekali pembiasaan positif yang ia lakukan sehari-hari, seperti disiplin salat wajib 5 waktu dan salat sunah, tilawah Alquran, membantu orang tua, disiplin bangun pagi, belajar setiap hari, membuat karya tulis, membaca buku, dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, di sinilah muncul perubahan akhlak Fakhri. Tiba-tiba saja dia minta maaf kepada ibunya dan meneteskan air mata. Pribadi baru Fakhri sekarang menjadi anak yang lebih tenang, bertanggung jawab, sering membantu pekerjaan ibunya, penyayang sama adiknya, membantu dan membimbing adiknya dalam melaksanakan salat, berperan sebagai guru ketika menemani adiknya belajar.

BACA JUGA  Serial Kepemimpinan Guru: Disiplin Mengelola Waktu

Perubahan akhlak Fakhri membuat ibunya terharu, yang tadinya sang ibu sering menangis karena sedih, sekarang sang ibu menangis karena bangga. Harapan ibunya, “Semoga Fakhri menjadi anak kebanggaan, pribadi yang menyenangkan, sukses dunia dan akhirat,”.

Aamiin. Semoga program ini tetap berlanjut menebar kebermanfaatan.

Oleh: Uum Umiati, M.Pd (Fasilitator Beasiswa Cikal SDN Pelita Atsiri Permai, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

LEAVE A REPLY