Prapti Leguminosa (kiri) dalam ‘Bincang Kerelawanan: Semua Bisa Menebar Kebaikan’ yang dilaksanakan secara daring di kanal YouTube Dompet Dhuafa. (Foto: Tangkap layar YouTube/dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dalam ‘Bincang Kerelawanan: Semua Bisa Menebar Kebaikan’ yang dilaksanakan secara daring di kanal YouTube Dompet Dhuafa belum lama ini, Prapti Leguminosa berbagi kisahnya selama bersinergi sebagai relawan kemanusiaan Dompet Dhuafa.

Wanita asal Lombok ini sebelumnya pernah menjadi Dosen di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta tahun 2016. Tapi, pada 2018, dia memutuskan berhenti dari profesinya tersebut. Dia ingin fokus menjadi relawan kemanusiaan.

“Saya lahir di Lombok, NTB, namun besar di Yogyakarta. Waktu itu Lombok di tahun 2018 sempat mengalami bencana alam. Mengingat keluarga besar berada di sana, saya langsung memutuskan untuk ‘terbang’ kembali ke kampung halaman,” kata perempuan yang akrab disapa Egum ini membuka obrolan.

Pertemuan awal Egum dengan Dompet Dhuafa kala itu ketika ia bersama keluarganya sedang berada di pos pengungsian. Mengingat Egum memiliki latar belakang sebagai Psikologi Pendidikan, ia tertarik untuk membantu para penyintas bencana di sana bersama para relawan kemanusiaan lainnya.

Dalam salah satu aksinya, pada kondisi respons tanggap darurat bencana, Dompet Dhuafa memiliki program Psychological First Aid (PFA). Tim PFA ini bertugas membantu penyintas dan tim relawan lainnya dari aspek psikis. Mengingat, salah satu dampak bencana alam ialah dampak psikis para penyintas.

Egum mencontohkan, salah satu dampak psikis yang berbahaya dan sering dirasakan oleh penyintas maupun relawan ialah ketika pengalaman mengerikan bencana tersebut terbawa hingga mimpi. Bahkan sampai mengganggu proses tidurnya.

Ini, kata dia, hanya salah satu contoh kecil dari dampak psikis. Menurutnya, untuk mengatasi hal tersebut, kunci paling penting dalam membantu penyintas mengatasi dampak psikis ialah dengan menjadi teman pendengar yang baik.

“Buat mereka seaman dan senyaman mungkin. Biarkan mereka sendiri yang bercerita. Jangan paksakan mereka bercerita dan jangan pula paksakan mereka dengan berbagai pertanyaan seperti sedang wawancara. Karena, itu hanya membuka luka lama. Biarkan mereka memilih mau bercerita atau tidak”, kata Egum.

Prapti Leguminosa berbagi kisahnya selama bersinergi sebagai relawan kemanusiaan Dompet Dhuafa. (Foto: dompetdhuafa.org)

Ia melanjutkan, ketika mereka memutuskan bercerita, jangan langsung membalasnya dengan kata ‘sabar’ atau ‘yang kuat, ya, Mas/Mba’. Mereka, kata Egum, tidak akan nyaman dengan itu.

“Karena, kita tidak merasakan langsung dengan sendirinya apa yang mereka rasakan pada saat kejadian itu terjadi,” ujarnya.

Hal yang sama juga diterapkan kepada tim PFA atau relawan lainnya. Karena, tidak baik bagi relawan jika terus-menerus terpapar atau berada dalam kondisi demikian, seperti mendengar cerita trauma penyintas, membantu evakuasi penyintas, dan melihat kesedihan secara langsung di sana selama lebih dari 14 hari.

“Biasanya, sebelum melakukan respons di pagi hari atau setelah melakukan respons di malam hari, kita briefing dan berbagi cerita pengalamannya hari ini. Karena, dengan bercerita, mereka juga melepaskan emosi mereka. Sehingga, cerita mereka jangan sampai mengganggu diri mereka di kemudian hari ketika melakukan kegiatan kerelawanan lainnya,” terangnya.

Selain itu para relawan juga harus meyakinkan diri untuk siap membantu penyintas. Terutama dari segi mental.

“Biasanya yang saya lakukan, karena saya muslim, ialah dengan melakukan ibadah salat. Contoh lainnya bisa juga dengan berbagi cerita dengan relawan yang lain”, kata Egum.

Dalam pesan penutupnya, dia berujar bahwa menjadi relawan kemanusiaan tidak harus selamanya dalam bentuk materi. Namun juga bisa berupa waktu dan tenaga. Selama tujuannya baik, pasti akan selalu ada jalannya.

“Kenali potensi diri. Dengan begitu kalian bisa membantu mereka-mereka yang sedang terkena musibah,” tutur Egum.

Oleh: Fajar
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY