Ilustrasi daging kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Sebagai agama yang paling paripurna, Islam memberikan aturan ketat tiap ibadah atau hal yang disyariatkan kepada pemeluknya. Seperti pada ibadah salat yang jelas dan lengkap dengan rukun, syarat sah, hingga tata caranya.

Kemudian kasus zakat, yang mana ia hanya diwajibkan untuk kaum muslimin dan tidak boleh diberikan kepada orang kafir (akan tetapi boleh memberi sedekah dan hadiah pada non-muslim jika ada maslahat) serta sederet ketentuan mengikat lainnya.

Dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Mu’adz Bin Jabal ketika berdakwah mengajak kepada Islam. Ketika mereka menerima dakwah dan masuk Islam, mereka diperintahkan membayar zakat yang diambil dari orang kaya kaum muslimin dan dibagikan kepada orang miskin dari kaum muslimin.

Ibnul Mudzir menyatakan ada ijma’ ulama dalam hal ini. Beliau berkata, “Ulama menyatakan secara ijma’ bahwa kafir dzimmi tidak diberi zakat sedikitpun”. (Al-Ijma’ hal.8)

Lantas, bagaimana dengan kurban, bolehkah memberikan daging kurban kepada non-muslim?

Seperti ibadah pada umumnya yang memiliki syarat dan ketentuan, kurbanpun demikian. Hidup di negara dengan beragam budaya dan agama, kita harus tetap memahami hak dan kewajiban agar tercipta harmoni kebaikan satu sama lain.

Untuk kasus kurban, hukumnya boleh memberikan daging kurban pada non-muslim, asalkan non-muslim tersebut bukan kafir harbi (kafir yang perang dengan kaum muslimin).

Ada beberapa alasan yang menguatkan pernyataan ini, seperti dilansir dari zakat.or.id, Sabtu (4/7/2020).

Pertama, Allah Ta’ala tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Di antara bentuk berbuat baik kepada mereka adalah dengan membagikan kepada mereka daging kurban.

Kedua, kisah Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu’anha, ketika berkonsultasi kepada Rasulullah perihal kedatangan ibundanya yang masih musyrik, meminta pesangon kepada Asma’ sebagai bakti putrinya kepadanya.

Nabi mengatakan, “Iya.. Sambunglah silaturahimmu dengan Ibumu”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Saat itu, masa perdamaian dengan kaum musyrikin. Ini artinya, hukumnya boleh membagikan harta kepada non-muslim, yang tidak memerangi kaum muslimin.

Ketiga, tindakan seperti ini bisa menjadi sebab lunaknya hati mereka sehingga mau memerima Islam.

Keempat, sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu pernah menyembelih kambing sebagai kurban untuk keluarganya.

Kemudian, beliau bertanya kepada mereka, “Apa sudah kalian beri tetangga kita yang Yahudi itu? Apa sudah kalian beri tetangga kita yang Yahudi itu?”.

Beliau melanjutkan, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku untuk tetangga, sampai saya menyangka dia akan mewarisinya’”. (HR. Tirmidzi: 1943. Dinilai shohih oleh Al-Albani. Diriwayatkan dari Mujahid)

Riwayat ini juga menjadi dalil, anjuran memprioritaskan pemberian kepada non-muslim yang masih ada hubungan kerabat atau tetangga dengan kita. Karena, mereka memiliki hak kekerabatan dan hak tetangga.

Syaikh Abdulaziz bin Baz –rahimahullah– ketika ditanya apakah boleh memberikan daging kurban kepada non-muslim?

Beliau menjawab, “Tidak mengapa karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 18/47)

Maka, orang kafir yang tidak ada hubungan perang antara kita dengan mereka, seperti Musta’min (yang meminta jaminan keamanan) atau Mu’ahad (yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin), boleh diberi daging qurban dan juga boleh diberi sedekah.

Jadi, hukumnya boleh membagikan daging kurban kepada non-muslim, terlebih jika mereka dalam kondisi kekurangan. Hikmahnya adalah dengan kebaikan yang diberikan ada nilai positif kepada umat Islam.

Karena, dengan sifat umat Islam yang peduli terhadap sesama akan memantapkan seseorang bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin.

Namun, tetap yang lebih afdal memprioritaskan kaum muslimin. Karena, hubungan iman menjadikan mereka lebih berhak untuk diutamakan. Dan, memberi daging kurban kepada mereka, membantu mereka dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh: Syaputri Febrina Sari
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY