Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Salah satu yang diatur dalam ibadah kurban adalah mengenai kepemilikan hewan kurban. Kambing, misalnya, hanya boleh dimiliki oleh satu orang, sapi maksimal 7 orang, sementara onta maksimal 10 orang.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَحَضَرَ الْأَضْحَى، فَاشْتَرَكْنَا فِي الْجَزُورِ، عَنْ عَشَرَةٍ، وَالْبَقَرَةِ، عَنْ سَبْعَةٍ

“Kami pernah safar bersama nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ketika tiba Iduladha, kami urunan untuk onta 10 orang dan sapi 7 orang”. (HR. Ibn Majah 3131 dan dishahihkan al-Albani)

Hadis ini berbicara tentang kepemilikan hewan kurban, bukan peruntukan pahala kurban. Untuk peruntukan kurban, satu ekor kambing bisa dikurbankan atas nama satu orang dan seluruh anggota keluarganya.

Abu Ayyub radhiyallahu’anhu mengatakan,

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ، وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan seluruh anggota keluarganya”. (HR. Tirmidzi 1505, Ibn Majah 3125, dan dishahihkan al-Albani)

Lantas, bagaimana dengan Kurban dari Perusahaan? Terkait hal ini, kita bisa melihat beberapa kemungkinan, seperti dikutip dari laman Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Rabu (1/7/2020).

Pertama, perusahaan itu milik perorangan. Semua modal dan asetnya milik satu orang. Sehingga, setiap dana yang dikeluarkan untuk kegiatan ibadah, maupun kegiatan sosial lainnya, hakekatnya adalah uang milik satu orang.

Termasuk ketika perusahaan ini memberikan kurban, hakekatnya itu milik owner perusahaan. Kurban ini sah sebagai ibadah pemilik perusahaan.

Kedua, perusahaan milik banyak pemodal. Seperti perseroan, yang modal dan asetnya patungan dari para pemegang saham. Ketika perusahaan mengeluarkan dana sosial CSR, hakekatnya itu uang milik semua pemegang modal.

BACA JUGA  Hukum Berkurban Menurut 4 Imam Mazhab

Jika itu untuk kegiatan ibadah, semua pemegang modal berhak di sana. Ketika itu wujudnya hewan kurban, maka nilainya sedekah kurban.

Ketiga, perusahaan memberikan hewan kurban ke karyawan. Mungkin kasusnya, perusahaan memberikan hewan kurban ke sejumlah karyawan. Misalnya, perusahaan mengeluarkan 10 ekor sapi untuk kurban 70 karyawan. Semacam ini dibolehkan, dan tentunya, pahalanya pun untuk karyawan.

Kira-kira sama dengan kasus perusahaan menghajikan para karyawannya. Yang pergi haji tentu karyawan, bukan perusahaan. Dan, pahalanya untuk karyawan yang pergi haji, bukan perusahaan.

Hanya saja, untuk jenis ketiga ini perlu diperhatikan aturan berikut:

Pertama, harus dipastikan kepemilikan sapinya. Terutama ketika perusahaan mengeluarkan lebih dari 1 sapi. Sebagai contoh, perusahaan mengeluarkan 10 ekor sapi untuk 70 karyawan. Secara perhitungan benar, namun tetap perlu ditegaskan, siapa pemilik masing-masing sapi.

Kedua, semua karyawan yang mendapat hadiah ibadah kurban harus sadar bahwa dia sedang berkurban. Karena, setiap ibadah butuh niat. Sehingga, tidak boleh perusahaan mengeluarkan sejumlah sapi kurban untuk beberapa karyawannya, tapi yang bersangkutan tidak tahu.

Ketiga, ketika hewan ini telah diserahkan ke karyawan, semua aturan kurban berlaku untuknya. Seperti anjuran menyembelih sendiri, atau melihat penyembelihannya, tidak boleh menjual bagian kurbannya, berhak dapat dagingnya, dan seterusnya.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY