Ilustrasi tata cara kurban. (Foto: zakat.or.id)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kurban yang sering kita jumpai setiap Iduladha merupakan salah satu ibadah sunah. Di mana, kita memberikan sebagian harta menjadi hewan ternak untuk disembelih dan diberikan kepada orang yang tepat.

Ibadah ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang memiliki rezeki agar lebih taat dan dekat dengan Allah SWT. Seperti yang termaktub dalam ayat Alquran berikut:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka laksanakanlah salat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada allah)”. (QS Al-Kautsar: 2)

Sebelum melaksanakan ibadah kurban, ada baiknya kita cermati dulu tata cara kurban yang sesuai dengan ajaran dalam Alquran dan hadis.

Dilansir dari zakat.or.id, Selasa (30/6/2020), berikut penjelasan lengkap tata cara pelaksanaan kurban dari perencanaan sampai dengan selesai.

Kenali Syarat-Syarat Orang yang Berkurban

Ilustrasi kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

Adapun syarat-syarat orang yang akan melaksanakan kurban yaitu sebagai berikut:

  1. Orang yang berkurban adalah seorang muslim atau Muslimah.
  2. Orang tersebut telah menginjak usia baligh yang ditandai dengan:
  • Keluar mani pada anak laki-laki atau perempuan baik dalam keadaan jaga atau mimpi sebagai tanda berubahnya hormon pada diri mereka.
  • Keluar darah haid bagi anak perempuan.
  • Jika yang berkurban adalah anak yang belum balig, maka tidak diminta untuk melakukan sembelihan, akan tetapi sunah bagi walinya untuk berkurban atas bana anak tersebut.

3. Berakal.
4. Mampu, dalam arti mempunyai kelebihan dari makanan pokok, pakaian, dan tempat tinggal untuk diri sendiri dan keluarganya di Hari Raya Iduladha dan hari Tasyrik.

Siapapun yang telah memenuhi syarat tersebut, maka sunah baginya untuk melakukan ibadah kurban.

Melaksanakan Kurban Sesuai Waktunya

Ilustrasi kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

Setiap tahunnya, Hari Raya Iduladha merupakan waktu yang disunahkan untuk kita melaksanakan kurban. Waktu pelaksanaannya dapat dilakukan mulai dari matahari terbit sampai terbenam. Tepatnya dimulai pada saat setelah selesai salat Id sampai dengan hari Tasyrik, yaitu 13 Zulhijah.

Memilih Jenis Hewan Kurban dan Mengecek Kondisi Hewan Tersebut

Ilustrasi kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

Jenis hewan yang dibutuhkan untuk kurban yaitu jenis hewan-hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, unta, dan hewan lain yang sesuai dengan syarat yang disyariatkan dalam Alquran dan hadis atau disebut dengan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu).

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. (QS al-Hajj: 34)

Selain itu, pekurban juga harus mengetahui dan mengecek kondisi hewan yang akan dikurbankan. Hal ini diperlukan karena ada beberapa syarat-syarat hewan kurban yang harus dipenuhi.

Sesuai dengan sabda Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari al-Barra bin Azib radliyallahu anh:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى

“Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban, “(1) yang (matanya) jelas-jelas buta (picek), (2) yang (fisiknya) jelas-jelas dalam keadaan sakit, (3) yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan (4) yang (badannya) kurus lagi tak berlemak”. (Hadis Hasan Shahih, riwayat al-Tirmidzi: 1417 dan Abu Dawud: 2420)

Syarat-Syarat Hewan Layak Kurban

Ilustrasi kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

Sebelum melakukan penyembelihan kurban yang dilakukan, penyembelih maupun orang yang akan berkurban harus memeriksa hewan kurbannya terlebih dahulu. Hal tersebut diperuntukkan untuk memastikan hewan tersebut telah memenuhi syarat-syarat hewan kurban

  1. Unta (Umur 5-6 tahun).
  2. Sapi/Kerbau (Masuk umur 2 tahun).
  3. Kambing (Masuk umur 1-2 tahun).
  4. Domba (6 bulan).

Selain kriteria tersebut, hewan kurban juga harus memiliki syarat-syarat lainnya seperti sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari al-Barra bin Azib radliyallahu anh:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى

Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban, “(1) yang (matanya) jelas-jelas buta (picek), (2) yang (fisiknya) jelas-jelas dalam keadaan sakit, (3) yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan (4) yang (badannya) kurus lagi tak berlemak”. (Hadis Hasan Shahih, riwayat al-Tirmidzi: 1417 dan Abu Dawud: 2420)

Proses Penyembelihan Kurban

Ilustrasi kurban. (Foto: Dompet Dhuafa)

Salah satu tata cara kurban yang perlu diperhatikan adalah saat proses penyembelihan kurban. Dalam proses penyembelihan hewan kurban, seorang pekurban diusahakan untuk mengikuti proses penyembelihan kurban yaitu dengan menyembelih kurbannya sendiri.

Namun, jika memang tidak bisa dilakukan, pekurban bisa hanya melihat proses penyembelihan tersebut.

ﻋﻦ ﺷﺪاﺩ ﺑﻦ ﺃﻭﺱ، ﻗﺎﻝ: ﺛﻨﺘﺎﻥ ﺣﻔﻈﺘﻬﻤﺎ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻝ: «ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻛﺘﺐ اﻹﺣﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﻲء، ﻓﺈﺫا ﻗﺘﻠﺘﻢ ﻓﺄﺣﺴﻨﻮا اﻟﻘﺘﻠﺔ، ﻭﺇﺫا ﺫﺑﺤﺘﻢ ﻓﺄﺣﺴﻨﻮا اﻟﺬﺑﺢ، ﻭﻟﻴﺤﺪ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺷﻔﺮﺗﻪ، ﻓﻠﻴﺮﺡ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ»

Syaddad bin Aus berkata: “Dua hal yang saya hafal dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam semua hal. Jika kalian membunuh maka lakukan dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih maka lakukan dengan cara yang baik; tajamkan pisaunya dan tenangkan hewan sembelihannya’”. (HR Muslim)

Berikut rincian proses penyembelihan hewan kurban yang diambil dari riwayat-riwayat hadis dan keterangan para ulama,

1. Pekurban dan penyembelih dalam keadaan suci.
2. Tempat pemotongan hewan kurban relative bersih dari kotoran.
3. Bersikap lembut terhadap hewan kurban, tidak berlaku seperti menarik hewan tersebut secara kasar, terlebih sambil dipukul.
4. Memberikannya minum untuk hewan kurban sebelum disembelih untuk menearapkan al-Ihsan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam terkait sembelihan.
5. Menghadapkan hewan kurban yang disembelih ke arah kiblat.
6. Ketika menyembelih, penyembelih membaca selawat:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ,

“Tuhanku, limpahkan rahmat untuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya”.

Kemudian setelah menyembelih, membaca doa:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ …..

Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah, qurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, terimalah qurban …”. (Sumber: Kifayah Al-Akhyar)

7. Disunahkan untuk tidak memotong kuku maupun rambut bila telah masuk tanggal 1 Zuhijah hingga hewan kurbannya telah disembelih seperti dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئ

“Jika telah masuk 10 hari pertama dari Zulhijah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga”. (HR. Muslim: 1977)

8. Menyembelih sendiri hewan kurban bagi yang mampu melakukannya.
9.Mempertajam pisau yang digunakan untuk menyembelih.
10. Mempercepat penyembelihan sehingga hewan kurban tidak lama menahan sakit.
11. Membaca takbir saat proses penyembelihan.
12. Penyembelihan dilakukan di hadapan warga agar banyak yang mendoakan dan menyaksikan syiar ini.
13. Disunahkan juga bagi pekurban mengambil bagian hewan yang dikurbankannya meskipun sedikit selama kurban tersebut bukan karena nazar atau tayin.

Itulah urutan tata cara kurban yang diambil dari Alquran, hadis, dan pendapat-pendapat ulama. Semoga dapat bermanfaat dan membawa wawasan kita lebih luas lagi.

Oleh: Maulidina Ramadhani
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY