Ilustrasi. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang tidak menentu ini, organisasi pengelola zakat (OPZ), seperti Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ), bukan saja dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan aktivitas masyarakat. Namun, juga berinovasi dalam memudahkan masyarakat untuk tetap dapat menunaikan kewajiban zakat dan mengeluarkan hartanya kepada lembaga-lembaga yang dipercaya.

Tantangan ini, mentransformasi cara gerak dan strategi lembaga zakat dari proses-proses konvensional atau offline menuju layanan yang berbasis digital.

“Kebijakan pemerintah terkait physical distancing mau tidak mau harus diadaptasi sebagai protokol dasar dalam setiap aktivitas OPZ. Baik penghimpunan, pengelolaan, dan pendistribusian zakat,” ujar Nurfahmi Islami Kaffah, Direktorat Pengembangan Zakat Dompet Dhuafa, di Jakarta, Senin, (29/6/2020).

Nurfahmi menjelaskan bahwa ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan lembaga zakat agar tetap bisa bertahan melakukan pelayanan di tengah kondisi pandemi. Berikut enam jurus tersebut:

1. Digitalisasi dan Diversifikasi Kanal Layanan Transaksi

Di tengah pandemi saat ini, segala kegiatan yang berkaitan dengan interaksi antara OPZ (sebagai amil) dengan muzaki, juga OPZ dengan mustahik, sebisa mungkin diupayakan dilakukan berbasis digital atau tanpa tatap muka.

Transaksi tatap muka langsung untuk pembayaran zakat misalnya, sudah sepatutnya digeser dengan bentuk transaksi online baik menggunakan transfer atau platform keuangan lainnya.

Hal ini perlu dilakukan guna meminimalisasi risiko kesehatan yang muncul terkait penularan. Sehingga, muzaki tetap nyaman dalam menyalurkan zakat, infaq, dan sedekahnya.

“Selain itu, diversifikasi jenis kanal juga mutlak untuk dilakukan guna menarik minat bagi para muzaki untuk menyalurkan hartanya. Semakin beragam platform keuangan digital yang terkoneksi dengan OPZ, maka akan semakin besar potensi untuk meningkatkan hasil penghimpunan,” kata Nurfahmi.

BACA JUGA  Bank Mega Syariah Salurkan Zakat Korporasi kepada Dompet Dhuafa

2. Menekan Biaya Operasional Kelembagaan (Operating Cost)

Menurut Nurfahmi, OPZ saat ini harus rela mengencangkan “ikat pinggang” dengan menekan biaya operasional kelembagaan. Penghematan operating cost yang dimaksud, kata dia, bukan berarti menurunkan kinerja lembaga, melainkan melakukan penghematan terhadap biaya-biaya yang dapat dioptimalisasi kepada penerima manfaat dibanding digunakan untuk operasional.

“Hal ini juga bukan berarti OPZ harus memangkas habis pengeluaran tetap. Misalnya, biaya SDM, sewa, dan lain sebagainya, melainkan dilakukan dengan pendekatan audit yang memadai dan memerhatikan prinsip kehati-hatian dan kewajaran,” tuturnya.

3. Melakukan Review Efektivitas dan Prioritas Program

Masa pandemi Corona juga menjadi momentum penting bagi OPZ dalam melakukan review terhadap efektivitas program yang selama ini dijalankan. Hal ini, kata Nurfahmi, penting.

Mengingat dalam kondisi pandemi, objek penerima zakat telah bergeser dan meluas spektrumnya. Sehingga, perlu ada langkah-langkah penyesuaian terhadap program-program reguler. Bahkan, program andalan lembaga yang selama ini berjalan.

Setelah melakukan review terhadap efektivitas program, OPZ dapat mulai melakukan prioritas terhadap program yang akan bertahan atau mengalami penyesuaian. Prioritas program juga sebaiknya diarahkan untuk menyesuaikan kondisi terkini subjek penerima zakat.

“Misalnya, intensifikasi program ekonomi dan bantuan terkhusus bagi masyarakat yang terdampak wabah, seperti pekerja informal, korban wabah, keluarga tenaga kesehatan, sopir, dan golongan rentan lain yang mungkin merupakan subjek baru penerima manfaat zakat saat ini,” ujarnya.

4. Meningkatkan Kompetensi Amil dalam Menjaga Kepercayaan Publik

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana OPZ meng-upgrade kapasitas amil untuk meningkatkan daya himpun di masa pandemi. Caranya, kata Nurfahmi, dengan meningkatkan peran amil untuk tidak lagi pasif dalam hal penghimpunan, namun bergerak secara aktif melakukan penghimpunan dan promosi program lembaga.

BACA JUGA  Dompet Dhuafa Salurkan Amanah Donasi untuk Pembangunan Musala Terdampak Gempa

“Justru, di tengah pandemi ini, amil harus tampil lebih aktif lagi dalam menjemput dana zakat. Karena, di kondisi pandemi ini kita berhadapan dengan dua mata koin; di satu sisi semua orang terpukul secara ekonomi, sedangkan di sisi lain, orang juga tergerak untuk berempati untuk membantu sesama. OPZ perlu mendorong peran amil untuk lebih produktif di masa-masa ini,” terangnya.

Di sisi lain, merawat kepercayaan publik juga perlu dilakukan dengan melakukan keterbukaan informasi terkait penghimpunan, pengelolaan, dan pendistribusian di masa pandemi. Hal ini sebagai komitmen lembaga menjaga kinerja dan menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dalam mengelola dana umat.

5. Intensifikasi Kerja Sama Program dan Kelembagaan

Saat ini, di hampir semua sektor publik atau pemerintahan baik pusat maupun daerah, serta sektor privat atau korporasi, beramai-ramai melakukan upaya bersama untuk membantu masyarakat terdampak wabah dengan berbagai cara.

Misalnya, pemerintah pusat dan daerah yang telah menyalurkan bantuan sosial (bansos) yang berjenjang dari pusat hingga daerah. Di sisi lain, korporasi juga gencar mengucurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) guna membantu korban terdampak.

Lantas, di mana posisi dan peran lembaga zakat dalam upaya itu semua?

Nurfahmi menjelaskan, bagi pemerintah, OPZ sebetulnya mempunyai portofolio yang kuat dalam menangani dampak sosial bencana atau dalam hal ini wabah. OPZ seharusnya dapat didorong untuk melakukan kerja sama-kerja sama inisiatif terkait program bantuan berkelanjutan yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

“Misalnya, kerja sama program bantuan modal, bantuan berbasis komunitas, bantuan produktif, dan lain sebagainya. OPZ yang memiliki kompetensi tersebut sebetulnya bisa dilibatkan lebih jauh sebagai mitra dalam mengawasi dan melakukan inisiasi-inisiasi program bantuan yang dikerjasamakan dengan pemerintah,” kata dia.

BACA JUGA  Pertamina Hulu Rokan dan Dompet Dhuafa Tebar Parsel Ramadan di Bekasi dan Jakarta

Di sisi lain, bagi pihak korporasi, misalnya, OPZ seyogianya memiliki database yang kuat dan akurat di mana kantong-kantong kemiskinan dan masalah sosial itu berada. Sehingga, OPZ dapat berkolaborasi dengan korporasi untuk menyalurkan CSR secara tepat.

6. Melakukan Konsolidasi dan Penguatan Internal

Dalam kondisi pandemi ini, yang tidak boleh terlewatkan adalah fungsi para leader di OPZ untuk melakukan komunikasi efektif dan konsolidasi internal di lembaga masing-masing.

“Pukulan wabah ini tentunya berdampak pada ekonomi masyarakat dan tidak terkecuali juga ekonomi para personil SDM yang bergerak di bidang zakat, baik amil maupun staf pendukung di dalamnya,” kata Nurfahmi.

Karena itu, para pimpinan OPZ harus memastikan bahwa setiap insan yang berkontribusi pada lembaga zakat memiliki peran penting dalam keberlangsungan lembaga.

Penguatan internal, menurutnya, perlu dilakukan agar antarpersonil di OPZ dapat bertahan melakukan pelayanan kepada masyarakat. Dan, saling menguatkan di tengah kondisi pandemi yang sulit ini.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY