Faisal, perawat dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa. (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID JAKARTA – Rilvi masih enggan sepenuhnya menyodorkan jari telunjuknya kepada Faisal, seorang perawat dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa. Bagi seorang anak yang baru menginjak bangku SMP, jarum suntik masih terasa menakutkan bagi Rilvi. Dengan ramah dan persuasif, Faisal coba menenangkan Rilvi.

“Tidak apa-apa, kok, Dik. Cuma sebentar dan tidak sakit. Tidak lebih sakit dari digigit semut,” ucap Faisal meyakinkan Rilvi yang nampak masih tegang saat melakukan tes rapid di Rumah Sakit (Kontainer Darurat) Kartika Pulomas Dompet Dhuafa, Jakarta Timur, Sabtu (20/6/2020).

Tak disangka, kalimat seperti digigit semut cukup efektif untuk memotivasi pasien seperti Rilvi. Sejurus kemudian, tanpa Rilvi sadari, Faisal telah mengambil sampel darah dari ujung telunjuknya.

Selanjutnya, giliran alat tes rapid itu yang melakukan tugasnya. Rilvi lega, Faisal pun gembira, satu tugasnya selesai hari itu.

Faisal saat melakukan tes rapid di Rumah Sakit (Kontainer Darurat) Kartika Pulomas Dompet Dhuafa, Jakarta Timur, Sabtu (20/6/2020). (Foto: dompetdhuafa.org)

Sudah tiga bulan terakhir, sejak Corona (Covid-19) resmi merambah Indonesia, Faisal (26) terus saja disibukkan melakukan kegiatan medis yang berkaitan dengan virus tersebut. Aktif di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa sebagai perawat tak melulu membuat Faisal harus merawat pasien.

Dengan segenap kemampuannya, ia selalu ikut serta mendukung progam LKC yang beraneka ragam. Mulai dari sosialisasi hidup bersih dan sehat, membagikan paket hygiene kit pada warga, mengantar pasien reaktif Covid-19, hingga menjadi petugas tes rapid dan uji swab.

Berprofesi sebagai perawat sudah menjadi konsekuensi bagi Faisal untuk bersinggungan dengan para pasien. Risiko tertular sudah pasti ada. Dan, itu dihadapinya.

Namun, Faisal juga manusia yang dikaruniai rasa takut. Saat menjalani tugasnya, ia hanya bisa beriktiar dengan mengikuti protokol kesehatan yang ada. Selebihnya, ia pasrahkan kepada Yang Kuasa.

“Awal-awal kejadian memang lumayan kepikiran, sempat khawatir kalau sampai tertular, tuh, bagaimana, pasrah aja. Tapi, setelah jalanin tugas satu-dua bulan, makin baik saya manajemen coping,” ungkap pria kelahiran Bekasi itu.

Hampir setiap tahun, Faisal (kiri) selalu ditugaskan ke lokasi bencana yang hampir semua orang enggan datang ke sana. (Foto: dompetdhuafa.org)

Bukan hanya saat Covid-19, Faisal sudah berlalu-lalang menjadi perawat yang ‘keluar garis’. Hampir setiap tahun, ia selalu ditugaskan ke lokasi bencana yang hampir semua orang enggan datang ke sana. Pengalaman hampir kehilangan nyawa pun pernah ia alami.

Bagi Faisal, menjadi perawat sama seperti halnya seorang seniman dengan karyanya. Ketika melihat senyuman keluarga yang menjemput saudaranya yang sembuh, sudah menjadi kepuasan tersendiri baginya.

Ketika ia menjahit luka, dan luka itu sembuh, Faisal lebih lebar tersenyum dibanding si pasien. Baginya, tenaga medis adalah seni menyelamatkan nyawa.

“Perawat itu seninya ada, saat kita RJP (Resusitasi Jantung Paru-paru) orang lagi sekarat (mati sementara) kemudian hidup (sadar), kan, senang sekali, tuh. Atau ketika ada luka-luka yang bisa kita bersihkan, bisa kita jahit, atau yang sakit kita rawat kemudian sembuh, senang sekali rasanya”, tutur Faisal, semakin dalam membagikan ceritanya.

Oleh: Zulfana
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY