Suasana simpang Senen Raya, Jakarta, pada tahun 1956. (Foto: Dok. ANRI)

ZNEWS.ID JAKARTA – Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Kota DKI Jakarta diperingati setiap 22 Juni. Tepat hari ini, (22/6/2020), Jakarta merayakan HUT ke- 493. Usia yang cukup lama untuk suatu kota. Tentunya, sudah banyak sejarah yang dimiliki Jakarta. Lalu, bagaimana sejarah HUT Kota Jakarta hingga bisa diperingati setiap 22 Juni?

Dilansir dari wikipedia.org, hari jadi Jakarta pertama kali dikeluarkan oleh Sudiro, Wali kota Jakarta periode 1953-1958. Pada masa kolonial, Belanda memperingati hari jadi Kota Batavia tiap akhir Mei dengan dasar bahwa pada akhir Mei 1619, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta.

Pada tahun 1869, untuk memperingati 250 tahun usia Batavia, dibangun pula monument J. P. Coen – saat ini halaman Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Di atas pondasi beton yang kokoh, berdiri Coen yang dengan angkuhnya menunjuk ke arah bawah – menggambarkan dia berhasil menaklukkan Jayakarta. Patung yang menjadi simbol dimulainya penjajahan Belanda itu dihancurkan pada masa pendudukan Jepang (1942-1945).

Sudiro, menyadari perlunya peringatan ulang tahun untuk kota ini yang berbeda dengan peringatan berdirinya Batavia. Maka, ia pun memanggil sejumlah ahli sejarah, seperti Mohamad Yamin, Sukanto, serta wartawan senior Sudarjo Tjokrosiswoyo untuk meneliti kapan Jakarta didirikan oleh Fatahillah.

Kala itu, Sudiro berkeyakinan bahwa tahunnya adalah pasti, yaitu 1527. yang menjadi pertanyaan adalah hari, tanggal, dan bulan lahirnya Kota Jakarta.

Potret Wali Kota Jakarta periode 1953-1958, Sudiro. (Sumber: Wikimedia Commons)

Sukanto kemudian menyerahkan naskah berjudul Dari Jayakarta ke Jakarta. Dia menduga bahwa 22 Juni 1527 adalah hari yang paling dekat pada kenyataan dibangunnya Kota Jayakarta oleh Fatahillah.

Naskah tersebut kemudian diserahkan oleh Sudiro kepada Dewan Perwakilan Kota Sementara untuk dibahas, yang kemudian langsung bersidang dan menetapkan bahwa 22 Juni 1527 sebagai berdirinya Kota Jakarta.

Tepat pada 22 Juni 1956, Sudiro mengajukannya dengan resmi pada sidang pleno dan usulnya itu diterima dengan suara bulat. Selanjutnya, sejak saat itu, tiap 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD Kota Jakarta sebagai tradisi memperingati berdirinya Kota Jakarta.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa dipilihnya 22 Juni 1527 karena saat itu merupakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Setelah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kalapa, Fatahillah sebagai panglima Kesultanan Demak mengubah Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

Menurut sejarawan Adolf Heyken SJ, hari jadi Jakarta hanyalah dongeng. Karena, katanya, tak ada dokumen yang menyebutkan nama Jayakarta. Bahkan, 50 tahun sesudahnya (saat VOC berkuasa), tetap disebut Sunda Kelapa.

Fatahillah adalah orang Arab. Jelaslah tidak mungkin apabila orang Arab memberi nama sesuatu dengan bahasa Sanskerta. Jayakarta adalah nama dari bahasa Sanskerta. Jadi, itu semua dongeng supaya Jakarta memiliki hari ulang tahun.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY