Ilustrasi. (Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Harni Astuti, SPd MPd (Kepala SD Negeri Giripeni)

ZNEWS.ID KULON PROGO – Semua lembaga pasti menginginkan citra yang baik untuk masyarakat di sekitarnya. Begitu pula SD Negeri Giripeni, yang ada di Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, memiliki visi-misi menjadi sekolah yang berkualitas dan berprestasi, baik dari segi proses maupun hasilnya.

Guru-guru sebagai penggerak pendidikan diberi ruang belajar agar senantiasa “hidup” dan dapat menggerakkan perubahan. Hal tersebut menjadi harapan besar agar sekolah bisa menebar manfaat lebih banyak lagi. Sehingga, masyarakat semakin semangat untuk bergabung bersama meraih cita-cita pendidikan bangsa Indonesia.

Sebagai sekolah penerima manfaat program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta, SD Negeri Giripeni berusaha untuk mencari hal-hal baru dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Hal baru tersebut diwujudkan dalam kegiatan Small Learning Community (SLC). SLC merupakan suatu komunitas belajar dalam skala kecil. Pesertanya ialah guru-guru dalam lingkup sekolah dengan tujuan membangun budaya belajar.

Guru membangun sendiri pengetahuannya bersama jejaring di sekitarnya. Guru adalah pembelajar yang secara terus-menerus harus belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Kepala Sekolah dalam hal ini bertugas sebagai pendamping dan teman belajar para guru.

SLC dilaksanakan melalui beberapa langkah. Langkah pertama adalah merencanakan program. Kepala sekolah dan para guru telah merencanaan program pada Senin, 6 April 2020 untuk menganalisis kekurangan kompetensi guru dan kebutuhan dalam hal pemenuhan kompetensi untuk meng-upgrade diri.

Kemudian, langkah selanjutnya yaitu pemilihan koordinator program. Ibu Nurul Utami SPd MPd, Guru Kelas 1, SD N Giripeni telah terpilih sebagai koordinator yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program agar berjalan secara rutin.

BACA JUGA  PGRI Kabupaten Indragiri Hulu Bersinergi Mengadakan Pelatihan Online

Selanjutnya, membuat jadwal pelaksanaan, penentuan tema/materi dan guru yang bertugas sebagai pemateri, moderator, dan juga notulis.

Teknis kegiatan SLC beragam, bisa dalam bentuk bedah buku, sharing pengalaman mengajar, pembuatan aplikasi pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, atau penyampaian materi yang sebelumnya telah disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Sampai saat ini, SLC telah dilakukan sebanyak 5 kali, berjalan seminggu sekali setiap hari Senin secara offline dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan. Semua kegiatan berjalan lancar, pemateri SLC yang notabene guru SDN Giripeni sigap dan semangat menyampaikan materi.

Materi yang disampaikan berdasarkan analisis kekurangan maupun kebutuhan. Materi berdasarkan analisis kekurangan yaitu model-model pembelajaran, penyusunan aplikasi pembelajaran, pemanfaatan TI untuk penyusunan soal, dan pembuatan alat peraga/media pembelajaran.

Materi berdasarkan analisis kebutuhan diambil dari materi yang diperoleh melalui pelatihan SLI, yaitu Fun Reading Activities (FRA), Fun Literacy Activities (FLA), Gerakan Ayo Bercita-cita, dan Display Kelas. Materi dari SLI disampaikan oleh guru model secara bergantian, sedangkan materi berdasarkan analisis kekurangan disampaikan oleh guru non model.

Tidak sampai di situ, evaluasi kegiatan juga dilaksanakan untuk menjamin bahwa apa yang sudah dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan evaluasi ini pula akhirnya dapat mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dan memberikan umpan balik tindak lanjut perbaikan.

Begitulah upaya kami, semoga melalui Small Learning Community pengetahuan guru semakin bertambah, bisa mengupgrade diri dalam menyampaikan ilmu yang dimiliki, meningkatkan keterampilan berbicara, dan seni menyampaikan materi yang menyenangkan serta menggugah.

Dengan demikian, akan tercipta lingkungan belajar bagi para guru yang lebih personal untuk mengembangkan diri dengan cara saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi. Menuntut ilmu di manapun tempatnya, siapapun gurunya, manfaatnya akan terasa hanya jika ilmu itu dipahami dengan seluruh kesadaran diri dan diamalkan dalam kehidupan. Jika tidak, maka ilmu yang kita miliki tak akan pernah membawa manfaat dan pengaruh baik pada pribadi kita.

BACA JUGA  Stay at Home ala Zahra

SDN Giripeni telah berupaya memberi sarana bagi para guru untuk menjadi guru pembelajar. Pembelajar sejati akan selalu bisa beradaptasi dengan perubahan.

Mereka akan selalu bergerak untuk menjalani fitrahnya, yaitu menemukan jawaban atas segala rasa keingintahuannya. Jika pendidikan telah berhasil memampukan manusia untuk tidak pernah berhenti berpikir, tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti bertindak, maka itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya; hidup dan menggerakkan perubahan.

Guru yang semakin berkembang dan mandiri dalam meng-update ilmu dapat menuntun peserta didik menghadapi zaman yang semakin berkembang. Bangga jadi guru. Guru berkarakter menggenggam Indonesia.

 

LEAVE A REPLY