Ilustrasi. (Foto: lipi.go.id)

ZNEWS.ID JAKARTA – Saat ini, pencemaran lingkungan yang terjadi di Indonesia perlu segera mendapatkan perhatian dan penanganan serius karena telah jauh berdampak pada terganggunya ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Peneliti Botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nuril Hidayati, mengatakan bahwa secara global diperkirakan 10.000 ton merkuri (Hg) per tahun mencemari lingkungan.

Di Indonesia, sumbangan terbesar pencemaran merkuri (37%) berasal dari penambangan emas rakyat yang tersebar di sekitar 800 daerah. Sementara itu, sekitar 75% lahan pertanian di Indonesia sudah menjadi lahan kritis sehingga kesuburan tanahnya terus menurun.

Data menunjukkan, 21–40% dari 106 ribu hektare sawah di Pantura Jawa Barat tercemar logam berat, dengan 7,83 hingga 91,47ppm tercemar timbal dan kadmium 8,75ppm.

“Kontaminan dari kelompok logam berat, seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) yang sulit mengalami degradasi secara alami, secara umum paling banyak dijumpai dan paling berpotensi menimbulkan masalah lingkungan,” jelas Nuril, dalam orasi pengukuhan Profesor Riset berjudul Tanaman Akumulator Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd) untuk Fitoremediasi, dilansir dari lipi.go.id, Selasa (19/8/2020).

Menurut Nuril, upaya reklamasi melalui revegetasi saja tidak menjamin hilangnya kontaminan dalam tanah walaupun kondisi lingkungan tampak membaik. Salah satu alternatif solusinya ialah menggunakan teknik fitoremediasi, yaitu teknik pembersihan limbah atau area terkontaminasi limbah dengan menggunakan tanaman hidup yang disebut tanaman akumulator.

“Teknologi fitoremediasi lebih ekonomis dan tepat diterapkan di Indonesia mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi sebagai tanaman hiperakumulator,” terang Nuril.

Riset tanaman akumulator merkuri menemukan beberapa tanaman yaitu Commelina nudifloradengan potensi akumulasi 114,05 mg/thn dapat menurunkan 73% kadar Hg di sawah (45 ppm–17 ppm), Salvinia molesta dengan poteni akumulasi 111,71mg/thn menurunkan 84% Hg (52 ppm–8 ppm), Paspalum conjugatum dengan potensi akumulasi 107,11 mg/thn menurunkan 88% Hg (75 ppm–9 ppm), dan Monocharia vaginalisdengan potensi akumulasi 68,57 mg/thn menurunkan 66% Hg (29 ppm–10 ppm).

BACA JUGA  Potensi Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk Bioprospeksi dan Bioekonomi

Sementara, enam jenis tanaman berpotensi akumulator timbal ialah Saccharum spontaneum(47 ppm Pb), Acorus calamus (55 ppm Pb), Ipomoea fistulosa (60 ppm Pb), Ludwigia hyssopifolia (50 ppm Pb), Eichhornia crassipes(55 ppm Pb), dan Hymenachne amplexicaulis 57 ppm Pb): dan enam jenis tanaman berpotensi akumulator kadmium antara lain Limnocharis flava (4,3 ppm Cd), Colocasia sp. (4,9 ppm), Ipomoea fistulosa (4,5 ppm), Grangea maderaspatana (5,0 ppm), Eichhornia crassipes(6,0 ppm), dan Ludwigia octovalvis (5,0 ppm Cd).

Penelitian Nuril menjelaskan konsep fitoremediasi menggunakan tanaman hiperakumulator secara holistik hingga metode untuk meningkatkan kemampuan fitoekstraksi secara terintegrasi.

Teknik fitoremediasi berbasis tanaman hiperakumulator dapat diaplikasikan secara terpadu sesuai dengan lingkungan yang diremediasi untuk memperbesar peluang keberhasilan.

“Inovasi ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap pengelolaan pencemaran lingkungan,” kata Nuril.

Ia juga menekankan pentingnya penyadartahuan masyarakat akan bahaya pencemaran dan mendorong keseriusan pemerintah dalam hal penerapan regulasi dan undang-undang pengelolaan lingkungan secara tegas dan konsisten.

Serta, diperlukannya pendataan pencemaran secara lebih serius, objektif, dan transparan agar terkumpul basis data akurat yang terpusat dan dapat diakses secara nasional.

“Arah ke depan strategi pengembangan riset hiperakumulator dan fitoremediasi ialah memperkuat sinergisme antardisiplin ilmu termasuk fisiologi tumbuhan, genetika molekuler, dan lainnya untuk mempercepat pencapaian hasil-hasil riset,” katanya.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY