ZNEWS.ID JAKARTA – Anita Kusuma Dewi merupakan salah satu aktivis Sekolah Guru Indonesia yang lulus seleksi dan berkempatan mengajar Paket B dan Paket C untuk Warga Negara Indonesia (WNI) di Hong Kong bersama Dompet Dhuafa.

Kesempatan ini juga ia gunakan untuk mengenal lebih jauh bagaimana sistem pembelajaran di Hong Kong dan apa perbedaanya dengan Indonesia.

Pada siaran langsung via Facebook saat acara Ramadan Guru Nusantara, Kamis (14/5/2020) lalu, Anita yang juga Kepala SDI Nurul Ihsan, Tolitoli, Sulawesi Tengah, mengatakan bahwa Hong Kong memiliki sistem pendidikan yang lebih maju dibandingkan dengan Indonesia.

Dia menceritakan bagaimana pola rekruitment guru, kurikulum yang digunakan, fasilitas yang tersedia, dan karakteristik anak WNI yang bersekolah di sana. Untuk pola rekruitmen guru, Hong Kong mengedepankan integritas dan kapasitas guru.

“Bahkan, seorang ahli bedah pun bisa menjadi guru di sana. Hal itu menunjukkan bahwa siapapun yang siap menjadi guru, memiliki kemampuan, portofolio yang baik, dan lolos dalam masa penjajakan selama 3 bulan akan diterima sebagai seorang guru,” ujarnya.

Untuk kurikulum yang digunakan guru, Anita menjelaskan bahwa metode dan penilaian yang digunakan tidak berbeda dengan kurikulum K-13 yang digunakan di Indonesia.

Hanya saja, perbedaannya adalah semua sekolah mewajibkan bahasa kanton. Tidak ada pelajaran agama di sekolah umum. Jika pun ada, di sekolah Islam. Namun, hanya sekilas.

Prapembelajaran dilakukan dengan sangat cermat, di mana assessment kepada anak yang melibatkan orang tua dilakukan terlebih dahulu. Namun, beban belajar lebih banyak dan jam belajar juga lebih panjang. Kadang hal ini yang membuat anak-anak WNI yang bersekolah di sana merasa stres.

“Hampir semua sekolah memiliki standar fasilitas yang baik ditandai dengan adanya banyak tes kesiapan yang dilakukan di sekolah sebelum anak masuk sekolah, seperti tes kesehatan, tes skill anak, dan sebagainya,” kata Anita.

BACA JUGA  Indahnya Silaturahmi: Menjaga Persaudaraan Menambah Keberkahan

Ketika ditanya karakteristik anak WNI yang bersekolah di sana, Anita menjawab, pada dasarnya semua anak itu sama. Mereka aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tidak berbeda dengan anak Indonesia lainnya.

“Anak WNI yang bersekolah di sana terkenal sebagai anak-anak yang ramah dan penuh tata krama. Hal ini dikarenakan orang tua mereka sangat berhati-hati dengan budaya pergaulan yang berbeda dengan budaya di Indonesia,” tuturnya, dilansir dari sekolahguruindonesia.net.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY