Webinar Eduaction (Vol. 2) #AkuKamuAksi yang digelar Dompet Dhuafa Pendidikan beberapa waktu lalu menghadirkan narasumber Ustaz Harry Santosa, seorang praktisi pendidikan. (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID JAKARTA – Webinar Eduaction (Vol. 2) #AkuKamuAksi yang digelar Dompet Dhuafa Pendidikan beberapa waktu lalu menghadirkan narasumber Ustaz Harry Santosa, seorang praktisi pendidikan. Tema yang diusung pada webinar tersebut adalah Mendidik Anak Seutuhnya.

Pada kesempatan itu, Harry menyampaikan bahwa adab dan Ilmu akan mudah diserap ketika fitrah tumbuh. Pendidikan, kata Harry, seperti dakwah, yang dibangun adalah ghirah (energi/semangat). Sehingga, aqidahnya menjadi kuat.

Ia menuturkan, sebaiknya keluarga memiliki misi ingin melahirkan generasi seperti apa. Karena anak adalah karunia, bukan beban. Hendaklah bukan sekedar menjadi anak biologis namun anak ideologis, yakni dapat melanjutkan perjuangan kita dan menjadi legacy dalam amal jariyah (regenerating parenting).

“Dalam pandemi seperti saat ini, sejatinya adalah kembali ke fitrah. Fitrah merupakan landasan, juga benih yang tumbuh. Ibarat diri adalah gadget, fitrah sudah ter-install pada diri. Setiap anak terlahir dengan keadaan fitrah, peran orang tua yang mengarahkan. Mencetak manusia beradab dari ilmu yang di dapat darimana pun,” terangnya.

Harry memberikan sedikit gambaran sebagai dasar pembeda aqidah dan kecerdasan. Hasil riset dari 19 orang lulusan kampus terbaik dunia, 10 orang adalah penyebab bangkrut perusahaan besar dan 9 orang lainnya adalah perusak alam. Bahkan 1/4 dari mereka bunuh diri.

“Anak-anak ini jenius dengan cara dan peran pekerjaannya. Namun, dunia tercengang dengan hasil ini. Tidak beradab pada alam, pada masyarakat, bahkan pada diri sendiri,” ujarnya.

Harry melanjutkan, sistem pendidikan modern tidak melahirkan human being, manusia yang tumbuh paripurna. Pendidikan modern membuat pem-bocahan panjang, salah satu dampak revolusi industri, yang memiliki masa konsumtif kisaran usia 15-25 thn. Akibatnya kedewasaan terlambat, adab tidak tumbuh.

“Beberapa kategori gagal didik di antaranya lambat dewasa, depresi, narkotika, kecanduan game, pornografi dan sebagainya. Bedakan kecerdasan dengan moralitas. Ada contoh mahasiswa kuliah tinggi di luar negeri, tetapi menjadi LGBT. Bahkan memerkosa dan membunuh korbannya dengan sadis. Itu pula secara kolektif akan menjadi masalah peradaban,” ungkapnya.

Menurut Harry, orientasi pertumbuhan iman menuju pada peran peradaban pendidikan didasari 3 hal penting:

  • Tarbiyah (fitrah > murroby) (QS 30:30).
  • Ta’dib (adab > mu’adib) (QS 66:6).
  • Ta’lim (ilmu > mu’alim) (QS 66:6).

“Hendaknya para orang tua mengadabkan dan mengilmukan. Bedakan peran sekolah dengan peran orang tua. Karena terdapat tanggung jawab orang tua yang bukan tanggung jawab sekolah, begitupun sebaliknya,” kata dia.

Pemahaman generasi tentunya berbeda. Penyesuaian terhadap generasi orang tua dan anak, dapat dipahami melalui 2 hal, stabilitas; value atau adab (sebagai pondasi: kitabullah, fitrah, Allah) dan dinamika; waktu dan tempat.

Adapun beberapa tahapan yang dijabarkan oleh Harry yakni:

  • Pada usia 0-6 tahun, tahap menumbuhkan fitrah.
  • Kemudian usia 7-10 tahun, tahap menumbuhkan kesadaran, napak tilas sejarah, bahkan praktik langsung dengan alam.
  • Tahap usia 11-15 tahun merupakan tahap ditempa, pembebanan, agar kesiapan dengan peran kehidupan yang sesungguhnya.

“Anak bukanlah beban namun sebuah karunia. Jadikan anak sebagai alasan untuk hidup, untuk tumbuh. Membangkitkan muslim mandiri (muqalaf) dan pemuda aqil baligh sejak usia 15 tahun yang tumbuh paripurna,” tutur Harry.

Oleh: Dhika Prabowo
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY