Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Bulan Ramadan merupakan bulan tarbiyah atau pendidikan baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Melihat anak-anak gemar beribadah sejak dini merupakan dambaaan setiap orang tua.

Asep Ihsanudin, Ketua Sekolah Guru Indonesia (SGI), pada live streaming Ramadan Guru Nusantara, belum lama ini, berbagi pengalamannya mengenai tips mengajak anak gemar beribadah. Menurutnya, orang tua memiliki tanggung jawab pendidikan terhadap anak-anak mereka bahkan sejak anak di dalam kandungan.

Nama yang diberikan orang tua kepada anak juga akan menjadi starting poin bagaimana anak ke depannya. Sehingga, pemilihan nama menjadi sangat penting kedudukannya dalam Islam.

“Kita bisa membaca bagaimana Rasulullah juga pernah mengganti beberapa nama sahabat yang kurang bagus maknanya diganti dengan nama yang bagus maknanya termasuk nama suatu wilayah,” kata Asep, dilansir dari laman SGI, Rabu (6/5/2020) .

Dalam memilih nama, orang tua harus menentukan terlebih dahulu harapan terhadap anak kita. Sebagai contoh, Asep menginginkan anaknya menjadi hamba Allah yang memiliki keimanan kokoh.

Oleh karena itu, ia mengambil nama salah seorang sahabat nabi yang k memiliki keimanan yang kokoh. Nama sahabat tersebut adalah Miqdad yang kini juga menjadi nama anak pertamanya.

Usia prasekolah merupakan usia yang tepat untuk menanamkan keimanan dan melatih emosi dengan menghadirkan imaji positif atau dalam metode pendidikan disebut dengan peneladanan. Dengan demikian, usia ini menjadi usia yang tepat untuk para orang tua mulai menanamkan akidah kepada anak dengan menghadirkan imaji positif melalui kisah-kisah teladan.

“Miqdad punya beberapa buku yang tidak sembarangan dibeli. Contohnya, tentang sahabat-sahabat nabi yang disampaikan kepada anak setiap malam sehingga dalam benak anak akan tertanam contoh-contoh tokoh hebat yang memiliki akhlak mulia, keimanan yang kokoh, dan amalan-amalan yang saleh,” terangnya.

BACA JUGA  Cara Mempertahankan Keuangan Usaha Fesyen Setelah Lonjakan Omzet Ramadan dan Lebaran

Asep juga menyampaikan tiga fase mendidik menurut Ali bin Abi Thalib, yakni fase anak sebagai raja untuk tujuh tahun pertama, anak sebagai pembantu untuk tujuh tahun kedua dan anak sebagai wazir/menteri untuk tujuh tahun berikutnya.

Julukan “raja” untuk anak usia prasekolah atau tujuh tahun pertama artinya mereka masih senang bermain-main tanpa harus dituntut menjalankan ibadah-ibadah wajib. Karena, usia mereka belum mumayiz untuk anak balita apalagi menjadi seorang mukalaf.

Selain itu, anak usia pra sekolah juga dijuluki sebagai peniru yang ulung, dengan mudahnya ia mencontoh segala hal yang dicontohkan oleh lingkungannya.

“Sehingga, pada usia ini, orang tua perlu menghadirkan peneladanan positif dalam hal ibadah, karakter, maupun pembiasaan positif harian lainnya di lingkungan keluarga sebagai persiapan untuk anak memasuki fase mumayiz dan taklif tanpa paksaan,” katanya.

Poin selanjutnya yang disampaikan Asep adalah mendoakan anak agar senantiasa menjadi insan yang taat beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa: “Wahai Tuhanku, jadikanlah Aku orang yang selalu melaksanakan salat. begitu juga anak keturunanku, wahai Tuhanku kabulkan doaku”. (Ibrahim: 40)

Di sesi akhir Asep menyampaikan bahwa dalam menghadirkan peneladanan positif di lingkungan keluarga, kerja sama suami dan istri mutlak diperlukan. Keduanya harus memiliki persepsi yang sama terhadap tujuan pendidikan anak dan tak lelah berdoa kepada Allah untuk kebaikan anaknya.

Di bulan Ramadan ini, kata Asep, momentum terbaik menanamkan kebaikan dan kecintaan beribadah untuk anak. Ia mengatakan, mulailah dengan menyiapkan tempat ibadah (mihrab atau musala di rumah), sebagai tempat khusus beribadah keluarga.

Kemudian, tentukanlah jadwal dan pembagian peran ibadah berjamaah keluarga mulai dari salat lima waktu, Tarawih, tadarus Alquran, kultum, dan sebagainya. Bahkan, ibadah kepada sesama seperti bersedekah juga perlu kita ajarkan kepada anak usia prasekolah.

BACA JUGA  Manfaat Lain dari Puasa, Bikin Awet Muda

“Misalnya, dengan membiasakan anak kita berbagi makanan yang ia punya, mengundang teman-temannya ke rumah, kemudian mengajak sang anak mentraktir teman-temannya makan bakso, dan lain-lain,” ujarnya.

Asep menutup dengan ajakan agar setiap ayah seyogianya hadir dalam mendidik anak. Dan, bagi para jomblo, terus belajar menjadi ayah meski belum menikah. Begitupun dengan para wanita agar menjadi orang tua yang siap lahir batin.

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY