ZNEWS.ID DEPOK – Belasan dai masih menjalani proses belajar di Sekolah Dai Cordofa yang beralamat di K81 musola Annur, Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada kegiatan belajar mengajar yang berlangsung pada Kamis (23/1/2020), para santri mendapatkan ilmu yang luar biasa dari Maya Sita Darlina, General Manager Human Capital Dompet Dhuafa.

Selama empat jam penuh, Maya memberikan pemaparan seputar seluk beluk Dompet Dhuafa. Mulai dari visi dan misi Dompet Dhuafa, jaringan, hingga Pshycological First Aid (PFA).

Maya membuka diskusi tentang program pemberdayaan binaan Dompet Dhuafa, yaitu pengrajin gula semut. Ia menjelaskan, dulu, ketika membuat gula, para pengrajin selalu mencampur bata merah. Namun, setelah mendapat arahan, pendampingan, dan pemberdayaan dari Dompet Dhuafa, kebiasaan itu tidak dilakukan lagi.

Dompet Dhuafa, kata Maya, juga menggalakkan program 3m, yaitu mustahik move to muzakki bagi para binaan Dompet Dhuafa.

Selesai membahas seputar program binaan Dompet Dhuafa, Maya melanjutkan diskusi dengan memberikan penjelasan mengenai program-program Dompet Dhuafa.

Di tengah pemaparannya, ia melontarkan satu pertayaan ke mahasantri. “Apa yang teman-teman tahu dari Dompet Duafa?” tanya Maya. “Dompet Dhuafa lembaga zakat, Bu,” jawab Irfan Nadjid, mahsantri yang berasal dari Maluku.

Maya lantas menjelaskan seputar misi dan visi Dompet Dhuafa. Misi Dompet Dhuafa, terang Maya, mewujudkan masyarakat dunia yang berdaya melalui pelayanan, pembelaan, dan pemberdayaan berbasis sistem berkeadilan.

Sementara, lanjut dia, visi Dompet Dhuafa ada tiga. Pertama, membangun gerakan pemberdayaan dunia untuk mendorong transformasi tatanan sosial masyarakat berbasis nilai keadilan. Kedua, mewujudkan petayanan, pembelaan, dan pemberdayaan yang berkesinambungan serta berdampak pada kemandirian masyarakat yang berkelanjutan.

“Kemudian, ketiga, mewujudkan keberlanjutan organisasi melalui tata kelola yang baik (Good Governance), profesional, adaptif, kredibel, akuntabel, dan inovatif,” jelasnya.

Tak hanya itu, Maya juga menerangkan seputar sejarah berdirinya Dompet Dhuafa kepada para santri hingga Pshycological First Aid (PFA). Semua ia kupas secara tuntas dengan mengajak para santri ikut membayangkan suasana tatkala tertimpa musibah bencana tsunami.

Betapa beratnya ketika seorang anak jauh dari ibunya, seorang istri jauh dari suminya, dan seorang saudara jauh dari keluarganya. Tak terbayang menggambarkan kisah seperti surah Abasa. Dan, itu tak sehebat ketika hari kiamat. Namun, sudah menggetarkan dan membuat takut yang terkena bencana.

Dengan membayangkan kejadian itu, Maya mencoba menggali reaksi para santri dengan menjadi relawan setelah bencana. Menurutnya, PFA merupakan dukungan atau pertolongan psikologis pertama yang membantu para korban bencana untuk bisa segera kembali beradaptasi ke aktivitas sehari-harinya, seperti bermain, belajar, dan aktivitas produktif lainnya.

PFA bencana Dompet Dhuafa, lanjut Maya, meliputi pemberian bantuan berupa makanan dan minuman, pakaian, posko, juga memberikan situasi aman, kepastian, hiburan, dan motivasi.

“Poin-poin di atas menunjukkan keperluan yang saling membutuhkan dan tim yang saling berkaitan. Jadi, tidak bisa dipisahkan,” terang Maya.

Ia juga memberi contoh kepada mahasantri yang nantinya akan dikirim ke daerah pedalaman. Di mana, jika sudah menjadi tim Dompet Duafa harus menjaga identitas dan tujuan mereka.

“Pastinya, ketika sudah terjun ke masyarakat, akan bayak problem yang ditemui,” tutur Maya.

Seperti, misalnya, sambungnya, ketika ada jemaah ibu-ibu yang mungkin bersetru hingga bertengkar. Kita tidak boleh diam saja.

“Cara menenangkannya bagaimana? Dengan melihat dan menunggunya, sambil menyiapkan tisu di sampingnya. Pasti dengan sendirinya akan lerai. Sebagai ustaz, kita bisa menjadi penenang bagi keduanya,” kata Maya.

Ia melanjutkan, pada hakikatnya, orang yang marah, hatinya sedang jauh. Walaupun dekat fisiknya, tapi tak bisa mengatur lisannya.

“Memang luar biasa ketika kita tahu ilmuya. Dengan mempelajari PFA, mahasantri Sekolah Dai Dompet Dhuafa semakin kuat dengan bekal ke ilmuanya. Ibarat mau perang, amunisi dan strategi sudah disiapkan,” terang M Angga Prasetiyo, salah satu Mahasantri Sekolah Dai Cordofa.

Angga berharap, program Sekolah Dai Cordofa bisa mencentak kader-kader dai yang kompleks keilmuannya. Sehingga, luas kebermanfaatannya. Baik untuk diri, keluarga, dan umat. (ang)

LEAVE A REPLY