ZNEWS.ID, JAKARTA — Bukan perkara mudah bagi seorang ibu berperan ganda dalam keluarga. Ia mesti merajut tangan untuk merawat anak sembari banting tulang mencari nafkah. Tidak sedikit dari perempuan hebat ini mengaku, ia harus menyandang peran tersebut sejak suami berpulang ke haribaan Allah. Sejak itu pula ia menyeka air mata dengan ketabahan dan ketangguhan.

Atas perjuangan sang pelita keluarga maka Tokopedia bersama Dompet Dhuafa bertandang ke kediaman ibu-ibu tangguh ini. Melalui program Ibu Tangguh, sebanyak 16 orang mendapat apresiasi berupa bantuan langsung untuk menunjang aktivitas mereka.

“Program ini diperuntukkan bagi para janda yang memiliki usaha serta memiliki tanggungan,” ujar Mustaki, Supervisi program Layanan Masyarakat Dompet Dhuafa, Kamis (24/10).

Ia pun mengungkapkan bahwa bantuan yang diserahkan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, sesuai dengan hasil survei dan pendataan yang telah dilakukan oleh pihak Dompet Dhuafa.

Salah satu penerima manfaat adalah Elya Susanti (28). Saat pendamping hidupnya meninggal akibat sakit, ia menjadi kepala keluarga dan seorang ibu bagi kedua anaknya yang masih berusia sekolah dasar.

Sehari-hari Elya membawa buah hatinya menerjang panas dan debu, menyusuri jalan-jalan di kawasan Kota Depok sembari berjualan kopi serta aneka makanan ringan. Terkadang hingga larut malam tiba, keluarga kecil ini pun masih terjaga di depan dagangan.

Elya mengaku merasa tak sampai hati ketika melibatkan anaknya mengais rezeki, namun ia terpaksa membawanya ikut berkeliling sebab tak ada yang menjaga di rumah. “Ada orang tua, tapi sudah sepuh, saya takut merepotkan. Mau titip ke tentangga juga enggak mungkin,” ungkapnya.

Dalam memudahkan aktivitas berjualan dan menambah penghasilan, program Ibu Tangguh membantu pembuatan sepeda gerobak dan modal usaha. “Alhamdulillah, bantuan ini sangat bermanfaat sekali buat saya dan anak-anak.” Ia memanjatkan syukur dan mengucapakan terima kasih kepada Tokopedia serta Dompet Dhuafa.

Nasib yang tak jauh berbeda dialami oleh Nurhayati. Ibu dengan satu orang anak ini merupakan guru ‘ngaji’ di kampung Teluk Pucung, Bekasi. Setiap hari ia mengajar anak-anak baca dan tulis Al-Qur’an, tak jarang pula ia mengajar ibu-ibu setempat.

Satu hal yang membedakan Nurhayati dengan guru lain, ia tak segan menjajakan pempek dagangannya kepada jamaah pengajian. Ia membuat sendiri makanan khas Palembang tersebut. Ia pun berdalih menekuni peran ini sejak sang suami telah tiada. “Saya punya tanggungan satu anak dan orang tua yang sudah renta,” tuturnya.

 

Ia hanya menggantungkan hidup dari hasil berjualan pempek, sedangkan menjadi seorang guru adalah pilihan hatinya untuk mengabdi. “Ini memang sudah niat saya untuk mengamalkan ilmu, walau enggak banyak ilmu yang saya miliki,” katanya.

Melihat perjuangan dan dedikasi Nurhayati, program Ibu Tangguh memberi apresiasi dengan membelikan perlengkapan serta bahan-bahan membuat pempek dan memperbaiki motornya yang telah usang, kendaraan yang sering ia pakai untuk mengajar.

“Semoga semua donatur diberikan kesehatan dan kemurahan rezeki,” ucap Nurhayati. (mus)

LEAVE A REPLY